Media Kampung – Dalam sidang Dewan Keamanan PBB, Under-Secretary-General untuk Urusan Kemanusiaan dan Koordinator Bantuan Darurat, Tom Fletcher, mendesak penghapusan hambatan bantuan kemanusiaan di Gaza. Meski ada perbaikan kondisi, para pekerja kemanusiaan masih menghadapi rintangan yang disengaja dan terus-menerus, sehingga menghambat distribusi bantuan vital.
Fletcher menjelaskan bahwa akses kemanusiaan saat ini hanya bergantung pada satu atau dua perlintasan yang beroperasi, padahal kapasitas yang jauh lebih besar bisa disediakan. Prosedur persetujuan dan bea cukai yang rumit, ditambah pembatasan terhadap barang berkegunaan ganda, membatasi masuknya pasokan kemanusiaan. Akibatnya, banyak dukungan vital tertahan di luar Gaza, sementara upaya kemanusiaan terhambat oleh kelangkaan bahan bakar, suku cadang, kendaraan lapis baja, dan perlengkapan pelindung.
Ia menekankan bahwa kendala ini diperparah oleh pembatasan terhadap layanan esensial dari UNRWA dan lembaga nonpemerintah. Fletcher mendesak agar perlintasan Erez/Beit Hanoun, Karni, dan Kerem Shalom/Karem Abu Salem segera dioperasikan dengan kapasitas penuh untuk membangun jalur distribusi bervolume tinggi dan multirute, serta akses ke lokasi penting di Gaza, termasuk tempat pembuangan akhir di dekat pagar perimeter.
Fletcher meminta anggota Dewan Keamanan untuk segera mencabut pembatasan Israel terhadap barang-barang esensial, seperti peralatan medis, suku cadang air dan sanitasi, bahan bakar, serta perlengkapan komunikasi dan pelindung bagi pekerja bantuan. Ia juga meminta penerapan kembali pembebasan bea cukai kemanusiaan, penerbitan visa jangka panjang bagi staf internasional, dan penyederhanaan pendaftaran lembaga nonpemerintah.
Selain itu, ia mendesak agar konvoi antarpemerintah dari Yordania dilanjutkan dan evakuasi medis ke Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur, ditingkatkan. Fletcher menegaskan bahwa aksi kemanusiaan bukanlah sekumpulan pilihan, melainkan ekosistem yang akan terganggu jika komponennya terhambat.
Ia juga mengingatkan bahwa kesepakatan antara AS dan Iran untuk mengakhiri permusuhan serta harapan gencatan senjata di Lebanon seharusnya membuat Dewan Keamanan kembali fokus pada realitas di Gaza. “Kita tidak boleh membiarkan puncak ambisi kita hanya berupa dunia di mana anak-anak memiliki asupan kalori cukup untuk bertahan hidup, tetapi tetap kelaparan, digigit tikus, tidak memiliki tempat tinggal, dan tidak bersekolah,” tuturnya.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan