Media Kampung, Gaza – Serangan udara Israel yang terjadi pada Sabtu, 18 Juli 2026, menewaskan dua warga Palestina di kawasan Sheikh Radwan, Kota Gaza. Pada hari yang sama, serangan lain menghancurkan dua gudang obat milik Rumah Sakit Martir Al-Aqsa di Deir al-Balah, Jalur Gaza tengah.

Militer Israel menyatakan serangan tersebut ditujukan untuk menargetkan anggota Hamas, namun tidak menyertakan bukti pendukung klaim tersebut. Serangan udara berikutnya menghancurkan fasilitas penting yang menyimpan obat-obatan vital, termasuk obat bagi pasien gagal ginjal yang menjalani cuci darah.

Baca juga:

Kerusakan pada Fasilitas Kesehatan

Dua gudang penyimpanan obat dan perlengkapan medis utama di Rumah Sakit Martir Al-Aqsa hancur akibat ledakan. Selain itu, serangan juga merusak gudang penyimpanan lain dan sebuah klinik rawat jalan rumah sakit. Meskipun tidak ada korban jiwa dalam insiden ini, kerusakan tersebut sangat mengancam kelangsungan pelayanan kesehatan di wilayah yang sudah terdampak konflik berkepanjangan.

Kementerian Kesehatan Palestina menyatakan bahwa gudang yang hancur menyimpan berbagai perlengkapan medis penting, termasuk kain kasa dan peralatan medis untuk perawatan rutin. Dokter di rumah sakit tersebut mengecam serangan ini sebagai kejahatan dan memperingatkan bahwa penghancuran stok medis akan berdampak buruk bagi pasien yang sangat membutuhkan perawatan.

Baca juga:

Klaim dan Kontroversi

Militer Israel mengklaim area dekat rumah sakit digunakan untuk menyimpan senjata dan menjadi lokasi operasi militer Hamas, berdasarkan intelijen Shin Bet. Namun, klaim tersebut belum disertai bukti yang dapat diverifikasi dan selalu dibantah oleh Hamas. Saksi mata menyebutkan bahwa militer Israel memberikan peringatan evakuasi sebelum serangan, namun ledakan tetap menghancurkan tenda-tenda tempat tinggal pengungsi yang berada dekat rumah sakit.

Konteks Konflik dan Gencatan Senjata

Serangan ini terjadi di tengah ketidakpastian mengenai masa depan gencatan senjata di Gaza. Meskipun Presiden Amerika Serikat sebelumnya mengumumkan terobosan dalam negosiasi damai, termasuk kesediaan Hamas untuk meletakkan senjata, sikap resmi dari pemerintah Israel masih belum jelas. Beberapa pejabat Israel menolak rencana gencatan senjata dan mendukung kelanjutan operasi militer terhadap Hamas.

Baca juga:

Konflik yang berkelanjutan ini terus menimbulkan korban jiwa dan kerusakan fasilitas sipil, termasuk rumah sakit dan tempat tinggal warga, yang seharusnya dilindungi oleh hukum humaniter internasional.