Media Kampung – Megumi Ogata, pengisi suara karakter Shinji dalam serial anime populer Neon Genesis Evangelion, mengungkapkan keprihatinannya terhadap praktik kloning suara menggunakan kecerdasan buatan (AI). Ia menilai fenomena ini sangat menyakitkan dan menyerukan agar pemerintah Jepang segera mengambil langkah hukum untuk melindungi para aktor suara dari pelanggaran hak suara.

Ogata menyatakan bahwa suaranya merupakan bagian penting dari identitas dirinya. Ia merasa sangat tidak nyaman dan sedih ketika suaranya digunakan tanpa izin untuk mengucapkan kalimat yang tidak diinginkan, kemudian dijual seolah-olah suara tersebut adalah miliknya. Hal ini menurutnya merupakan pelanggaran serius yang tidak bisa diabaikan, apalagi jika negara Jepang yang dikenal sebagai kekuatan konten global tidak menetapkan aturan jelas terkait penggunaan suara dalam konten digital.

Baca juga:

Fenomena penggunaan teknologi AI untuk meniru suara aktor kini semakin marak, terutama di platform video seperti TikTok. Selain merugikan para profesional, praktik ini juga menimbulkan kekhawatiran di kalangan pembuat konten dan modder, yang terkadang tanpa sadar ikut menggunakan suara hasil kloning AI tanpa persetujuan. Beberapa aktor suara terkenal lainnya, termasuk Wes Johnson dan Jennifer Hale, juga menyuarakan kritik serupa dan menuntut tanggung jawab dari pihak studio maupun pengguna AI.

Pemerintah Jepang sendiri tengah mempertimbangkan pembentukan kerangka hukum baru yang mirip dengan hak citra (likeness rights) untuk menghadapi tantangan tersebut. Regulasi ini diharapkan dapat mengatur penggunaan suara dan identitas digital secara lebih tegas, sehingga melindungi hak para aktor serta menjaga integritas industri hiburan dan konten digital di Jepang.

Baca juga:

Isu kloning suara AI bukan hanya soal teknologi, tetapi juga menyangkut aspek etika, hak pribadi, dan perlindungan kreativitas. Dengan semakin berkembangnya teknologi AI, penting bagi negara dan pelaku industri untuk menetapkan batasan yang jelas agar tidak terjadi penyalahgunaan yang merugikan pihak-pihak terkait.

Mengikuti perkembangan ini, langkah konkret dari pemerintah Jepang akan menjadi contoh penting bagi negara lain dalam menghadapi tantangan regulasi di era digital yang terus berubah. Perlindungan terhadap hak suara dan identitas digital menjadi bagian esensial dalam menjaga kepercayaan dan keberlanjutan industri kreatif.

Baca juga: