Daftar Isi
Media Kampung – 09 Maret 2026 | Teheran – Pada awal minggu ini, tiga depot minyak strategis di wilayah Tehran dan provinsi Alborz menjadi sasaran serangan rudal gabungan Amerika Serikat dan Israel. Serangan yang terjadi pada 7-8 Maret 2026 menimbulkan ledakan dahsyat, kebakaran berkepanjangan, dan menimbulkan fenomena yang disebut “sungai api” serta asap hitam tebal yang menutupi langit ibu kota.
Serangan Rudal Memicu Kebakaran Besar
Menurut laporan Al Jazeera, depot minyak Fardis di kota Karaj (Alborz) dan fasilitas penyimpanan bahan bakar di Tehran menjadi titik fokus serangan. Empat pengemudi truk tanker tewas, sementara minimal enam orang tewas dan lebih dari 70 orang luka di lokasi. Video yang diunggah di platform X menampilkan bola api raksasa yang melayang di atas jalanan, menimbulkan efek “sungai api” yang menyala di sepanjang trotoar. Tim pemadam kebakaran bekerja keras selama berjam‑jam untuk memadamkan api, namun tumpahan minyak mengalir ke sistem pembuangan limbah, memperparah situasi.
Pembatasan Kuota BBM di Tehran
Merespons kerusakan infrastruktur energi, pemerintah Iran mengumumkan pemotongan kuota pembelian bahan bakar di seluruh provinsi Tehran. Kuota yang sebelumnya 30 liter per kartu bahan bakar pribadi dipangkas menjadi 20 liter per transaksi di semua SPBU resmi. Kebijakan ini diumumkan pada Minggu, 8 Maret 2026, melalui siaran televisi resmi dan pernyataan Gubernur Tehran. Tujuannya adalah menjaga ketersediaan bahan bakar bagi warga sipil di tengah situasi keamanan yang belum stabil.
Dampak Lingkungan dan Kesehatan
Asap tebal yang dihasilkan kebakaran mengandung partikel halus (PM2.5) serta senyawa organik aromatik polisiklik (PAH) yang berpotensi menimbulkan hujan asam. Organisasi Iranian Red Crescent Society memperingatkan kemungkinan terjadinya hujan beracun yang dapat menodai bangunan, kendaraan, dan menimbulkan gejala pernapasan pada penduduk. Laporan The New York Times menegaskan bahwa zat beracun tersebut dapat menyebar ke wilayah tetangga, termasuk Turkmenistan, Afghanistan, dan Pakistan.
Respons Internasional
Kementerian Luar Negeri Iran, melalui juru bicara Esmaeil Baghaei, mengecam serangan tersebut sebagai “kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan”. Anadolu Agency melaporkan bahwa serangan ini merupakan bagian dari operasi militer gabungan pertama yang menargetkan fasilitas energi Iran sejak konflik dimulai pada Februari 2026. Sementara itu, pihak Israel menegaskan bahwa target merupakan infrastruktur yang mendukung kemampuan militer Iran, meski tidak mengomentari korban sipil.
CEO perusahaan distribusi minyak nasional Iran, Keramat Veyskarami, menyatakan bahwa meskipun empat depot mengalami kerusakan signifikan, cadangan bensin nasional masih mencukupi untuk memenuhi kebutuhan domestik jangka pendek. Ia menambahkan bahwa proses pemulihan sedang berjalan, namun pemulihan penuh diperkirakan memakan waktu berminggu‑minggu.
Pengurangan kuota BBM diperkirakan akan menimbulkan antrean panjang di SPBU, terutama pada jam sibuk. Warga Tehran melaporkan kesulitan menemukan bahan bakar untuk kendaraan pribadi dan transportasi umum, yang pada gilirannya dapat memperparah mobilitas kota pada bulan Ramadan yang akan datang.
Secara keseluruhan, serangan terhadap depot minyak Iran menimbulkan dampak multidimensi: kerusakan infrastruktur kritis, krisis energi domestik, ancaman lingkungan, serta ketegangan geopolitik yang semakin memuncak di Timur Tengah. Pemerintah Iran berupaya menstabilkan pasokan bahan bakar melalui pembatasan kuota, sementara komunitas internasional mengawasi perkembangan situasi demi menghindari eskalasi lebih lanjut.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.






