Media Kampung – Seorang pria bernama Ahmad (nama samaran) berhasil melarikan diri dari kerusuhan bersenjata di Ambon pada September 1999, menjadi contoh nyata penderitaan dan ketahanan pengungsi Ambon 1999.
Konflik sektarian antara kelompok Muslim dan Kristen memicu penembakan massal di kawasan Maluku, memaksa ribuan warga mengungsi ke pelabuhan Hatta dan menyeberang ke pulau-pulau tetangga.
Ahmad, yang saat itu berusia 22 tahun, melarikan diri bersama istri dan dua anaknya menggunakan perahu nelayan kecil yang berangkat pada dini hari untuk menghindari tembakan.
Menurut laporan mediakampung.com, mereka menempuh perjalanan selama tiga hari dengan hanya bekal air kelapa dan roti tawar, sementara kapal lain terpaksa kembali karena serangan artileri.
Saat tiba di Pulau Seram, keluarga Ahmad dijamu oleh relawan Palang Merah Indonesia (PMI) yang memberikan makanan, selimut, dan tempat penampungan sementara.
PMI mencatat bahwa pada tanggal 12 September 1999, sebanyak 4.200 pengungsi tercatat tiba di kamp darurat Seram, termasuk keluarga Ahmad.
Setelah dua minggu, Ahmad memutuskan melanjutkan perjalanan ke Kupang, Nusa Tenggara Timur, dengan harapan menemukan pekerjaan dan mengirimkan uang kepada kerabat yang masih tertahan di Ambon.
Di Kupang, ia diterima oleh sebuah komunitas Islam lokal yang membantu mencari pekerjaan di pelabuhan, sehingga ia dapat mengirimkan uang bantuan secara rutin.
“Saya tidak pernah membayangkan dapat kembali ke rumah, tapi harapan tetap ada,” ujar Ahmad dalam wawancara eksklusif yang disampaikan kepada MSN pada tahun 2023.
Latar belakang konflik bermula dari persaingan politik dan ekonomi pasca Reformasi, dipicu oleh pembunuhan tokoh agama pada Agustus 1999 yang memicu aksi balas dendam.
Pemerintah Indonesia pada akhir 1999 mengirimkan pasukan TNI dan Polri untuk meredam kekerasan, namun proses perdamaian baru berjalan efektif pada tahun 2002.
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan bahwa sekitar 30.000 orang menjadi pengungsi internal selama puncak konflik, dengan mayoritas mengungsi ke pulau-pulau sekitarnya.
Setelah lebih dari dua dekade, Ahmad kini menetap di Jakarta, bekerja sebagai supir angkutan umum dan aktif dalam komunitas korban konflik Maluku, membantu anak-anak yatim piatu.
Ia menyatakan, “Saya ingin anak-anak tidak merasakan ketakutan yang pernah saya alami,” menegaskan komitmennya untuk memperbaiki kondisi sosial di wilayah asal.
Terakhir, laporan BNPB tahun 2024 mencatat bahwa sebagian besar pengungsi Ambon 1999 telah kembali atau menetap kembali di wilayah asal dengan dukungan program rekonstruksi pemerintah.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan