Media KampungImam Masjid Al-Muhajirin di Palopo menjadi korban serangan warga setelah menegur sekelompok anak yang bermain mikrofon dan sepeda di dalam area masjid pada sore hari Rabu, 31 April 2024.

Menurut keterangan saksi mata yang berada di tempat kejadian, anak-anak itu masuk ke dalam ruang ibadah tanpa izin, mengeluarkan suara keras lewat mikrofon, serta berkeliling dengan sepeda mini yang mengganggu jamaah yang sedang melaksanakan sholat Dzuhur.

Imam yang bernama Ahmad menegur mereka secara tegas, meminta agar menghentikan aktivitas tersebut demi menjaga kesucian tempat ibadah. Peneguran itu memicu kemarahan sebagian orang tua yang mengawasi anak‑anaknya, yang kemudian berbondong‑bondong menyerang Ahmad dengan memukul dan menendang.

Insiden berlangsung singkat, namun menyebabkan Imam mengalami luka memar di lengan kiri dan memar di wajah. Setelah kejadian, Ahmad melaporkan insiden tersebut ke kantor Polres Palopo, mengajukan laporan resmi serta meminta perlindungan bagi dirinya dan jamaah masjid.

Kapolsek Palopo, Kombes Pol. Hendra Saputra, mengonfirmasi bahwa laporan telah diterima pada pukul 15.30 WIB. “Kami telah menurunkan tim investigasi ke lokasi, mengumpulkan rekaman CCTV, dan mencatat identitas saksi serta pelaku yang terlibat,” ujar Hendra dalam pernyataan resmi yang disampaikan kepada media.

Rekaman CCTV yang berhasil diamankan menunjukkan bahwa sekelompok sekitar tiga puluh orang dewasa menanggapi teguran imam dengan mengeluarkan kata‑kata kasar, kemudian melakukan aksi fisik. Polisi mencatat bahwa sebagian pelaku tampak membawa alat tajam seperti pisau dapur, meskipun tidak ada laporan penggunaan senjata tajam secara nyata.

Dalam proses penyelidikan, polisi berhasil mengidentifikasi lima orang yang terlibat langsung dalam penyerangan. Mereka kini berada dalam tahanan sementara untuk proses pemeriksaan lebih lanjut. “Kami akan menindak tegas pelaku yang mengganggu keamanan tempat ibadah, sesuai dengan Pasal 170 KUHP tentang penganiayaan,” tambah Hendra.

Wakil Ketua Majelis Taklim Al-Muhajirin, Ustadz Abdul Rahim, menyatakan keprihatinannya atas insiden tersebut. “Masjid seharusnya menjadi tempat aman bagi semua, termasuk anak‑anak. Namun, perilaku kekerasan tidak dapat dibiarkan,” tegasnya. Ia menambahkan bahwa masjid akan meningkatkan pengawasan dan menyiapkan prosedur penanganan bila ada pelanggaran serupa di masa depan.

Pihak Masjid Al‑Muhajirin juga mengumumkan akan mengadakan sosialisasi tentang tata tertib penggunaan fasilitas masjid kepada warga sekitar, termasuk larangan bermain mikrofon atau sepeda di area ibadah. “Kami ingin menciptakan lingkungan yang harmonis, tanpa mengorbankan nilai‑nilai kebersamaan,” ujar Ahmad dalam wawancara singkat dengan mediakampung.com.

Insiden ini menarik perhatian masyarakat Palopo yang menilai perlunya pendidikan karakter sejak dini. Sekolah‑sekolah di wilayah tersebut direncanakan akan mengadakan program anti‑kekerasan dan disiplin, bekerja sama dengan lembaga keagamaan setempat.

Sejauh ini, tidak ada laporan korban jiwa atau kerusakan fisik yang signifikan pada bangunan masjid. Namun, kerusakan minor pada pintu masuk dan peralatan audio terjadi akibat benturan. Tim kebersihan masjid sudah melakukan perbaikan darurat, sementara pihak kepolisian terus memantau situasi untuk mencegah potensi konflik selanjutnya.

Kasus ini menjadi peringatan bagi komunitas untuk menegakkan etika dan tata tertib di tempat ibadah, sekaligus menegaskan komitmen aparat keamanan dalam menegakkan hukum. Pengembangan kebijakan keamanan masjid di Palopo diperkirakan akan menjadi agenda prioritas dalam rapat koordinasi lintas‑instansi mendatang.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.