Media Kampung, Indonesia adalah negara kepulauan dengan 77 persen wilayahnya berupa laut dan garis pantai terpanjang kedua di dunia. Namun, potensi ekonomi kelautan yang mencapai USD 1,338 triliun baru terealisasi 7,92 persen terhadap PDB nasional pada 2022. Kesenjangan ini menunjukkan bahwa orientasi pembangunan masih terlalu berfokus pada daratan, padalah identitas bangsa sebagai pelaut seharusnya menjadi motor kemajuan.
Sejarawan Hilmar Farid pernah mengingatkan bahwa kolonialisme telah memupus budaya maritim nusantara yang dahulu menjadi ciri khas dan kekuatan bangsa. Kini, diperlukan langkah strategis untuk mengembalikan orientasi maritim Indonesia.
Langkah Strategis Mengoptimalkan Potensi Laut
Pertama, harmonisasi hukum dan tata kelola keamanan laut. Prof. Mahfud MD mencatat setidaknya 24 undang-undang kelautan yang tumpang tindih, menghambat optimalisasi sumber daya dan penegakan kedaulatan. Sinkronisasi perundang-undangan menjadi prioritas.
Kedua, pembangunan infrastruktur maritim terintegrasi, seperti pelabuhan, kawasan industri, dan jaringan logistik di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Infrastruktur yang terpadu akan menekan biaya logistik dan meningkatkan daya saing produk kelautan.
Ketiga, negara harus merangkul masyarakat pesisir, termasuk Suku Bajo, Suku Laut, dan lebih dari 2,7 juta nelayan kecil. Mereka adalah penjaga laut nusantara yang perlu mendapat perlindungan hukum dan kesejahteraan agar profesi nelayan menjadi bermartabat dan menarik minat generasi muda.
Keempat, perkuat tata kelola dan penegakan hukum untuk memberantas Illegal, Unreported, and Unregulated Fishing (IUU Fishing) serta memperkuat pengawasan wilayah perairan. Sinergi antarkementerian, lembaga, pemerintah daerah, dan masyarakat pesisir menjadi kunci.
Laut bukan pemisah, melainkan pemersatu Nusantara. Kembali menghadapkan pembangunan ke samudra, memperkuat nelayan, melindungi ekosistem pesisir, dan menjadikan maritim sebagai denyut utama kemajuan bangsa adalah keniscayaan. Masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh daratan, tetapi oleh bagaimana kita menjaga dan mengelola lautan.






















Tinggalkan Balasan