Media Kampung – Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, menghadiri ASEAN Center of Excellence Program and Symposium Minimal Invasive Colorectal Surgery di RSUP Dr. M. Djamil Padang pada Sabtu, 7 Juni 2026. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya penguatan kapasitas tenaga kesehatan, perluasan deteksi dini, serta pemanfaatan teknologi medis modern untuk menghadapi peningkatan kasus kanker kolorektal yang kini banyak ditemukan pada usia muda.

Kegiatan berskala internasional ini dihadiri secara daring oleh Menteri Kesehatan Republik Indonesia, serta para pakar bedah, akademisi, dan tenaga kesehatan dari berbagai daerah dan negara ASEAN. Turut hadir Presiden Perhimpunan Ahli Bedah Indonesia dr. Nazarullah, jajaran Kolegium Ilmu Bedah, pimpinan RSUP Dr. M. Djamil, dan Universitas Andalas.

Mahyeldi menyatakan bahwa peningkatan kualitas pelayanan kesehatan harus berjalan seiring dengan peningkatan kompetensi SDM dan penguasaan teknologi medis. “Tenaga kesehatan harus terus meningkatkan kemampuan dan kompetensinya. Tujuan utamanya adalah menyelamatkan manusia, menekan angka kematian, dan menghadirkan pelayanan kesehatan terbaik bagi masyarakat,” ujarnya.

Menurutnya, simposium dan pelatihan tersebut menjadi forum strategis untuk memperkuat kapasitas tenaga kesehatan sekaligus mempercepat transfer ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya di bidang bedah minimal invasif yang terus berkembang. Atas nama Pemerintah Provinsi Sumbar, Mahyeldi menyampaikan apresiasi kepada RSUP Dr. M. Djamil Padang, Kolegium Ilmu Bedah, Perhimpunan Ahli Bedah Indonesia, para narasumber, dan seluruh pihak yang berkontribusi.

Mahyeldi juga mengingatkan bahwa kanker kolorektal masih menjadi tantangan kesehatan global yang serius. Ia menilai tren peningkatan jumlah penderita pada usia semakin muda harus menjadi perhatian bersama. “Kanker kolorektal merupakan salah satu jenis kanker dengan jumlah kasus tertinggi di dunia. Yang menjadi perhatian kita, usia penderita saat ini semakin muda. Ini harus menjadi perhatian serius semua pihak,” ujarnya.

Perubahan pola hidup menjadi salah satu faktor pendorong peningkatan kasus kanker kolorektal. Konsumsi makanan olahan dan daging merah secara berlebihan, rendahnya konsumsi serat, serta kurangnya aktivitas fisik merupakan faktor risiko yang perlu diantisipasi sejak dini. “Ada ketidakseimbangan antara apa yang kita konsumsi dengan energi yang kita keluarkan. Karena itu, pola hidup sehat harus menjadi perhatian bersama agar risiko berbagai penyakit, termasuk kanker, dapat ditekan,” tuturnya.

Ia menambahkan, upaya pencegahan melalui edukasi dan deteksi dini perlu terus diperkuat agar kasus kanker dapat ditemukan lebih cepat dan ditangani secara optimal. “Pembangunan kesehatan tetap menjadi salah satu prioritas Pemerintah Provinsi Sumatera Barat. Penguatan SDM kesehatan, pengembangan teknologi kesehatan, dan kolaborasi dengan berbagai institusi harus terus ditingkatkan,” tegas Mahyeldi.

Pada kesempatan itu, Mahyeldi juga menyatakan dukungan penuh terhadap pengembangan RSUP Dr. M. Djamil Padang sebagai bagian dari jejaring ASEAN Center of Excellence di bidang Minimal Invasive Colorectal Surgery. Menurutnya, keberadaan pusat unggulan tersebut merupakan kebanggaan bagi Sumbar sekaligus peluang besar untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional. “Kami berharap pusat unggulan ini tidak hanya meningkatkan kompetensi tenaga medis, tetapi juga memperluas akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang modern, berkualitas, dan berstandar internasional,” katanya.

Selain itu, Mahyeldi menyebut Pemerintah Provinsi Sumbar terus mendorong peningkatan kualitas layanan kesehatan di seluruh daerah, termasuk pengembangan RSUD Mohammad Natsir menjadi rumah sakit tipe A guna memperkuat sistem layanan rujukan di Sumbar. “Kami ingin masyarakat Sumatera Barat mendapatkan layanan kesehatan terbaik tanpa harus keluar daerah. Karena itu, peningkatan kualitas rumah sakit dan tenaga kesehatan akan terus menjadi fokus pembangunan daerah,” ujarnya.

Mengakhiri sambutannya, Mahyeldi berharap simposium internasional tersebut mampu memperkuat kolaborasi antara rumah sakit, perguruan tinggi, organisasi profesi, dan pemerintah dalam menghadirkan layanan kesehatan yang semakin berkualitas bagi masyarakat. “Pelayanan kesehatan yang berkualitas adalah investasi bagi masa depan bangsa. Karena itu, penguatan kompetensi dan kolaborasi harus terus kita dorong bersama,” tutup Mahyeldi.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.