Media Kampung – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memberikan klarifikasi terkait peningkatan jumlah temuan kasus HIV di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Menurut Kemenkes, lonjakan tersebut bukan disebabkan oleh peningkatan angka penularan, melainkan karena semakin luasnya layanan skrining HIV sehingga lebih banyak kasus yang terdeteksi.

Plt. Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, dr. Andi Saguni, menegaskan bahwa temuan kasus yang meningkat justru menunjukkan efektivitas deteksi dini. “Mengetahui status HIV sejak dini adalah langkah penting untuk melindungi diri sendiri, pasangan, dan keluarga. HIV dapat dikendalikan dengan pengobatan teratur sehingga orang dengan HIV dapat hidup sehat dan produktif,” ujarnya dalam keterangan resmi, Minggu (26/7).

Baca juga:

Data Temuan HIV di Sidoarjo (2001–2026)

Berdasarkan data Kemenkes, sejak 2001 hingga Juni 2026 terdapat 1.183 kasus HIV kumulatif pada kelompok usia 0–24 tahun di Sidoarjo. Berikut rinciannya:

  • Usia 0–10 tahun: 117 kasus – seluruhnya penularan vertikal (ibu ke anak). Dari jumlah tersebut, 32 anak masih menjalani terapi ARV, 35 meninggal, dan 50 lost to follow-up (LFU).
  • Usia 11–17 tahun: 60 kasus – 4 penularan vertikal, 56 horizontal. Hingga Juni 2026, 34 remaja masih dalam pengobatan, 7 meninggal, 19 LFU.
  • Usia 18–24 tahun: 1.006 kasus – hampir seluruhnya (1.005) penularan horizontal. Kelompok ini didominasi laki-laki yang berhubungan seksual dengan laki-laki (LSL) sebanyak 521 kasus, diikuti kelompok dengan faktor risiko belum teridentifikasi (210 kasus). Sebanyak 572 orang masih menjalani terapi ARV, 123 meninggal, 311 LFU.

Upaya Pencegahan dan Penanggulangan

Kemenkes juga memperkuat layanan pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak (PPIA). Selama 2022 hingga Juni 2026, tercatat 163 ibu hamil dengan HIV di Sidoarjo. Seluruh ibu hamil didorong menjalani tes HIV sebagai bagian dari antenatal care agar terapi ARV segera diberikan, sehingga risiko penularan ke bayi dapat ditekan hingga di bawah 2 persen.

Baca juga:

Andi mengajak masyarakat untuk tidak takut menjalani tes HIV apabila memiliki faktor risiko atau mendapat rekomendasi tenaga kesehatan. Ia juga menekankan pentingnya menghentikan stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan HIV (ODHIV) karena dapat menghambat upaya tes dan pengobatan.

Kemenkes menegaskan bahwa keberhasilan penanggulangan HIV tidak hanya diukur dari penurunan infeksi baru, tetapi juga dari semakin banyak orang yang mengetahui status HIV-nya, memulai terapi ARV sedini mungkin, dan tetap menjalani pengobatan secara berkelanjutan.

Baca juga: