Media Kampung – Pada pagi hari tanggal 18 September 2026, kualitas udara di berbagai daerah di Indonesia menunjukkan variasi signifikan, dari yang sangat bersih hingga kategori tidak sehat. Informasi ini penting bagi masyarakat untuk mengetahui kondisi lingkungan dan mengambil langkah pencegahan yang sesuai.
Kendari menjadi kota dengan kualitas udara terbaik di Indonesia pada pukul 07.00 WIB dengan skor indeks kualitas udara (AQI) sebesar 2, yang menunjukkan sangat minimnya kadar polutan di udara. Disusul oleh Kabupaten Tasikmalaya dengan skor 5 dan Gorontalo dengan skor 20. Keseluruhan sepuluh daerah teratas memiliki kualitas udara dalam kategori baik menurut klasifikasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) berdasarkan Permen LHK No. 14 Tahun 2020.
Berikut adalah daftar 10 daerah dengan kualitas udara paling bersih pada pagi hari tersebut:
| No | Daerah | Indeks Kualitas Udara (AQI) | Kategori |
|---|---|---|---|
| 1 | Kendari | 2 | Baik |
| 2 | Kabupaten Tasikmalaya | 5 | Baik |
| 3 | Gorontalo | 20 | Baik |
| 4-10 | Daerah lain dalam kategori baik | – | Baik |
Sementara itu, sejumlah daerah mengalami kualitas udara yang tidak sehat, bahkan sangat tidak sehat akibat polusi dan kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Jakarta mencatat AQI sebesar 153 pada pukul 05.00 WIB dengan konsentrasi PM2,5 mencapai 59 mikrogram per meter kubik, 11,8 kali lebih tinggi dari ambang batas tahunan yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Jakarta berada di urutan kesembilan wilayah dengan kualitas udara terburuk di Indonesia pada pagi hari tersebut.
Daerah dengan kualitas udara terburuk lainnya adalah Palembang (339), Pontianak (254), Serpong (203), Jambi (202), Tangerang Selatan (163), Pekanbaru (160), Bandung (159), dan Tangerang (158). Tingginya kadar polutan PM2,5 yang merupakan partikel kecil dapat berdampak buruk bagi kesehatan, terutama bagi penderita penyakit jantung dan paru-paru kronis.
Di Bulungan, Kalimantan Utara, kualitas udara sangat tidak sehat akibat kabut asap karhutla sehingga Dinas Pendidikan setempat kembali menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) selama dua hari mulai 18 hingga 19 September 2026 untuk mengurangi risiko kesehatan bagi pelajar.
Paparan polutan yang tinggi di wilayah perkotaan seperti Jakarta disebabkan oleh kombinasi laju urbanisasi yang cepat, pembangunan kota yang masif, serta dampak perubahan iklim global. Hal ini menimbulkan tantangan besar dalam pengendalian pencemaran udara.
Masyarakat dianjurkan untuk mengenakan masker, mengurangi aktivitas di luar ruangan, menutup jendela rumah untuk menghindari masuknya udara tercemar, serta menggunakan alat penyaring udara guna menjaga kesehatan di tengah kondisi kualitas udara yang buruk.
Memantau kualitas udara secara rutin dan mengambil langkah pencegahan adalah penting untuk menjaga kesehatan masyarakat, terutama di wilayah yang rentan mengalami polusi udara tinggi.












Tinggalkan Balasan