Media Kampung – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi masalah serius yang melanda Pulau Kalimantan bagian Indonesia pada tahun 2026, sementara wilayah Kalimantan Malaysia nyaris luput dari bencana serupa. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan mengapa kebakaran hutan terjadi secara masif di sisi Indonesia, namun hampir tidak terlihat di wilayah Malaysia yang berbatasan langsung.
Sepanjang Agustus 2026, ribuan titik panas terdeteksi di berbagai provinsi Kalimantan Indonesia, dengan Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat sebagai wilayah terdampak terparah. Data resmi dari Sistem Pemantauan Karhutla (SIPONGI) mencatat lebih dari 1.400 titik panas di Kalimantan Barat dan lebih dari 2.000 titik panas di Kalimantan Tengah dalam periode singkat. Luas lahan yang terbakar mencapai puluhan ribu hektare, menyebabkan kabut asap tebal yang mengganggu aktivitas masyarakat hingga memaksa penutupan sekolah di sejumlah daerah.
Berbeda dengan kondisi di Indonesia, wilayah Malaysia dan Brunei yang juga berada di Pulau Kalimantan hampir tidak menunjukkan titik api yang signifikan. Hal ini bukan berarti Malaysia bebas dari kebakaran hutan, namun perbedaan karakteristik lahan dan pengelolaan menjadi faktor utama penyebab ketimpangan tersebut. Dosen Ilmu Tanah Universitas Sebelas Maret, Dwi Priyo Ariyanto, menjelaskan bahwa faktor lahan gambut yang luas dan kondisi kering yang ekstrem di Kalimantan Indonesia mempermudah penyebaran api. Sementara itu, Malaysia memiliki pengelolaan lahan yang lebih ketat dan kondisi lingkungan yang berbeda sehingga kebakaran dapat diminimalisir.
Pemerintah Indonesia telah mengerahkan upaya besar dalam penanganan karhutla di Kalimantan. Sebanyak hampir 13.000 personel gabungan, termasuk dari Kementerian Kehutanan, BNPB, TNI, Polri, dan relawan, dikerahkan untuk memadamkan api dan mengendalikan kebakaran. Berbagai metode digunakan, mulai dari patroli titik panas, pemadaman darat, pembasahan area, hingga penggunaan dukungan udara seperti helikopter water bombing. Selain itu, pemerintah juga membangun sumur bor untuk mengatasi keterbatasan sumber air permukaan di tengah musim kemarau yang berkepanjangan.
Faktor utama yang memicu karhutla di Kalimantan adalah kombinasi musim kemarau panjang, perubahan kelembapan tanah, dan praktik pembukaan lahan dengan cara membakar yang masih marak. Kebiasaan membuka lahan menggunakan api dianggap lebih murah dan cepat dibandingkan metode lain, meskipun menimbulkan risiko tinggi terhadap kebakaran tak terkendali. Penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran lahan juga masih menjadi tantangan, meskipun telah terdapat sejumlah kasus yang ditangani kepolisian pada tahun ini.
Karhutla di Kalimantan bukan hanya masalah lingkungan, tetapi juga berdampak besar pada kesehatan dan kehidupan sosial masyarakat. Kabut asap mengurangi jarak pandang, menyebabkan iritasi mata, dan meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan. Masyarakat terutama di kota-kota besar seperti Palangka Raya merasakan dampak langsung dari kebakaran yang seolah berulang setiap tahun ini.
Fenomena perbedaan sebaran titik api antara Kalimantan Indonesia dan Malaysia menegaskan perlunya pengelolaan lahan yang lebih baik, peningkatan pengawasan, dan perubahan kebiasaan masyarakat dalam membuka lahan. Upaya kolaboratif lintas sektor dan peningkatan kapasitas penanganan karhutla menjadi kunci untuk mengurangi risiko kebakaran di masa depan dan melindungi lingkungan serta kesehatan masyarakat di Kalimantan.














Tinggalkan Balasan