Media Kampung, Sarawak – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan telah berdampak signifikan hingga wilayah Sarawak, Malaysia. Sebanyak 108 sekolah di distrik Serian, Sarawak, ditutup sementara karena kualitas udara yang memburuk dan masuk dalam kategori tidak sehat, guna melindungi siswa dari risiko kesehatan akibat paparan asap.
Penutupan Sekolah dan Kualitas Udara yang Memburuk
Penutupan sekolah ini merupakan hasil rekomendasi dari komite manajemen bencana negara bagian Sarawak. Indeks kualitas udara di Serian sempat mencapai angka 198, yang tergolong tidak sehat menurut standar Malaysia. Selain Serian, beberapa wilayah di Sarawak yang berbatasan langsung dengan Kalimantan juga mengalami kualitas udara yang buruk.
Sumber Kabut Asap dan Titik Panas
Kementerian Sumber Daya Alam dan Keberlanjutan Hidup (NRES) Malaysia menyatakan kabut asap yang melanda tidak hanya berasal dari kebakaran di Kalimantan, tetapi juga kebakaran lokal di Malaysia. Kebakaran lokal terjadi di tempat pembuangan sampah di bawah pengawasan Dewan Kota Sibu (SMC) seluas sekitar 1,5 hektare, serta kebakaran hutan dan semak di Sri Aman yang melanda area sekitar 100 hektare.
Berdasarkan pemantauan satelit oleh Badan Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional (NOAA), terdapat 12 titik panas di Malaysia, dengan 11 titik di Sarawak dan satu di Pahang. Sementara itu, titik panas di Indonesia tercatat jauh lebih banyak, yaitu 354 titik di Kalimantan dan 60 titik di Sumatra.
Dampak Kabut Asap di Kalimantan Selatan
Di Indonesia, kabut asap pekat juga melanda sejumlah wilayah di Kalimantan Selatan, termasuk Kota Banjarbaru. Kabut asap ini menyebabkan jarak pandang menurun drastis, sehingga pengendara harus ekstra hati-hati saat berkendara. Konsentrasi partikulat halus PM2.5 di Banjarbaru tercatat mencapai 389,4 mikrogram per meter kubik, yang sangat berbahaya bagi kesehatan.
Warga di wilayah terdampak melaporkan gangguan pernapasan seperti mata perih, batuk, dan sesak napas akibat kabut asap. Pemerintah dan instansi terkait terus memantau serta melakukan upaya pemadaman kebakaran di lokasi-lokasi yang terdampak.
Konteks dan Pentingnya Penanganan Karhutla
Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi selama musim kemarau ini menjadi tantangan serius bagi kualitas udara dan kesehatan masyarakat di wilayah perbatasan Indonesia dan Malaysia. Dengan titik panas yang masih banyak terdeteksi, upaya pencegahan dan penanggulangan karhutla menjadi penting untuk mencegah dampak lebih luas di masa mendatang.
Penutupan sekolah di Sarawak mencerminkan langkah pencegahan yang diambil untuk melindungi generasi muda dari risiko kesehatan akibat kabut asap yang tebal. Kondisi ini juga menegaskan pentingnya kerjasama lintas negara dalam menghadapi permasalahan lingkungan yang bersifat transnasional.














Tinggalkan Balasan