Media Kampung, Kalimantan Selatan – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan pada tahun 2026 terus meluas, mengancam kawasan hutan lindung dan berdampak serius pada kesehatan masyarakat serta aktivitas sehari-hari. Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan mengerahkan Brigade Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Brigdalkarhutla) untuk mencegah api merembet ke hutan lindung Liang Anggang di Kota Banjarbaru.
Kepala Dinas Kehutanan Kalsel, Fathimatuzzahra, menegaskan kesiapsiagaan personel intensif dilakukan di area perbatasan untuk merespons laporan kebakaran dengan cepat dan mencegah penyebaran api ke kawasan lindung. Upaya ini krusial mengingat musim kemarau yang panjang dan curah hujan yang minim memperparah kondisi kebakaran.
Wilayah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat menjadi pusat titik panas kebakaran dengan ribuan hotspot terdeteksi. Kota Palangka Raya, misalnya, mengalami kualitas udara sangat buruk dengan indeks kualitas udara (AQI) mencapai 487, yang masuk kategori berbahaya. Dampak kabut asap ini menyebabkan penyesuaian kegiatan belajar mengajar, khususnya penundaan jam masuk sekolah dan pelaksanaan pembelajaran jarak jauh bagi jenjang PAUD.
Dampak kesehatan akibat menghirup asap kebakaran sangat serius. Asap mengandung polutan berbahaya seperti karbon monoksida, oksida nitrogen, senyawa organik mudah menguap, logam berat, dan partikel halus PM2.5. Paparan jangka pendek dapat menyebabkan batuk, sesak napas, iritasi mata dan tenggorokan, serta gejala asma dan sakit kepala. Paparan jangka panjang berisiko memperburuk penyakit jantung dan pernapasan, bahkan kematian dini pada kelompok rentan seperti anak-anak dan ibu hamil.
Kebakaran yang meluas ini juga berkaitan erat dengan tata kelola lingkungan yang kurang baik. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) menyoroti bahwa 74 persen titik panas berada di konsesi sawit dan tambang, menandakan faktor manusia dalam pengelolaan lahan turut memperburuk krisis karhutla di tengah kondisi iklim yang kering akibat fenomena El-Nino.
Masyarakat dan pemerintah terus berupaya mengatasi krisis ini dengan mengerahkan sumber daya untuk pemadaman dan pencegahan serta memberikan perhatian pada kesehatan dan aktivitas sosial yang terdampak. Dukungan dari berbagai pihak sangat penting untuk meminimalkan kerugian akibat kebakaran hutan dan lahan yang terus berlangsung.














Tinggalkan Balasan