Media Kampung, Bali – BATIC 2026 kembali digelar di Nusa Dua, Bali, pada 24-28 Agustus 2026 dengan partisipasi lebih dari 2.700 delegasi dari 67 negara dan melibatkan lebih dari 1.100 perusahaan. Forum tahunan ini membahas perkembangan terkini infrastruktur digital dan bisnis di tengah pesatnya kemajuan kecerdasan buatan (AI).
Jumlah peserta BATIC tahun ini meningkat signifikan dibandingkan tahun lalu yang diikuti sekitar 1.600 delegasi dari 55 negara. Hal ini menunjukkan pertumbuhan minat dan kebutuhan pelaku industri terhadap diskusi dan kolaborasi dalam menghadapi tantangan digital global.
IgnitePro: Forum Khusus Segmen Enterprise
Tahun ini BATIC juga menghadirkan IgnitePro, sebuah konferensi eksekutif yang menyasar segmen enterprise. IgnitePro membahas isu-isu penting seperti autonomous AI, cloud computing, cybersecurity, dan infrastruktur digital cerdas. Kehadiran IgnitePro menjadi bagian dari upaya BATIC untuk meningkatkan relevansi dan kualitas engagement antar pelaku ekosistem digital.
Kolaborasi sebagai Kunci Perkembangan Industri Digital
CEO Telin, Abdul Rahman Ansyori, menegaskan bahwa tema BATIC 2026 “Unleashing Ecosystem to Drive Adaptive Progress” menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dan perusahaan. Ia menyatakan bahwa perkembangan industri digital tidak dapat dilakukan sendiri oleh satu pihak, melainkan harus didorong melalui ekosistem yang saling mendukung.
“BATIC tidak hanya untuk transaksi jangka pendek, tetapi membangun kemitraan dan pipeline jangka panjang,” ujar Abdul Rahman.
Pertumbuhan Pertemuan Bisnis Menguatkan Manfaat BATIC
Tahun ini, tercatat lebih dari 4.200 business meeting yang dijadwalkan, meningkat signifikan dibandingkan sekitar 2.400 pertemuan tahun lalu. Peningkatan ini menunjukkan manfaat nyata yang dirasakan pelaku industri melalui forum ini.
President Director Telkom Indonesia, Dian Siswarini, menilai BATIC sebagai wadah strategis yang mendukung peluang Indonesia menjadi pemain penting di ekonomi digital Asia Pasifik. Ia memaparkan bahwa nilai ekonomi digital Indonesia diperkirakan mencapai lebih dari USD 130 miliar pada 2026 dan berpotensi melonjak hingga USD 360 miliar pada 2030.
Pentingnya Infrastruktur dan Ekosistem Digital
Dian Siswarini menekankan bahwa potensi ekonomi digital hanya dapat terealisasi dengan infrastruktur digital yang memadai, mulai dari konektivitas hingga platform berstandar internasional. Ia juga menegaskan bahwa pembangunan daya saing digital membutuhkan pembentukan ekosistem secara menyeluruh, bukan hanya investasi infrastruktur semata.
AI dan Konektivitas Global
Salah satu fokus utama BATIC 2026 adalah meningkatnya kebutuhan konektivitas sebagai dampak perkembangan AI yang pesat. Direktur Wholesale International Service Telkom Indonesia, Budi Satria D. Purba, menjelaskan bahwa kebutuhan konektivitas compute-to-compute meningkat hingga 10 hingga 20 kali lipat. Hal ini mendorong pembangunan infrastruktur kabel laut internasional, seperti kabel Bifrost yang menghubungkan Singapura dan Amerika Serikat melalui perairan Indonesia.
Pembangunan kabel laut memerlukan waktu hingga lima tahun, namun kapasitasnya seringkali habis kurang dari satu tahun setelah beroperasi. Kondisi ini menjadi tantangan utama dalam menyediakan konektivitas global yang mendukung pusat data dan AI di Indonesia, khususnya di Jakarta dan Batam.
Tantangan Geopolitik dan Rantai Pasok
Perkembangan infrastruktur digital juga menghadapi tantangan geopolitik dan gangguan rantai pasok. Gangguan kabel laut internasional dapat berdampak luas terhadap konektivitas antarnegara. Oleh karena itu, BATIC 2026 menjadi ruang penting bagi operator, hyperscaler, technology owner, dan regulator untuk membangun kolaborasi lintas ekosistem guna mengatasi tantangan tersebut.
BATIC 2026 menegaskan peran strategis Indonesia dalam ekosistem digital global dengan mendorong kolaborasi dan pembangunan infrastruktur yang adaptif dan berkelanjutan di era kecerdasan buatan.













Tinggalkan Balasan