Media Kampung – Penggunaan kecerdasan buatan (AI) sebagai sumber nasihat keuangan semakin populer di Amerika Serikat, terutama di kalangan generasi muda. Meski demikian, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap AI dalam mengelola keuangan masih tergolong rendah dibandingkan dengan penasihat keuangan profesional.
Tren Penggunaan AI untuk Nasihat Keuangan
<pMenurut survei yang dilakukan Gallup bersama perusahaan jasa keuangan Edward Jones pada musim semi 2026 terhadap 5.075 orang dewasa AS berusia minimal 21 tahun, sekitar 20 persen responden yang mencari nasihat keuangan dalam setahun terakhir memilih menggunakan AI. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan minat terhadap teknologi sebagai alat bantu dalam pengelolaan keuangan pribadi.
Tingkat Kepercayaan terhadap AI dan Penasihat Keuangan Profesional
Meskipun AI semakin digunakan, hanya sekitar 30 persen orang dewasa AS yang menyatakan memiliki kepercayaan besar atau sebagian terhadap kemampuan AI dalam mengelola uang. Kepercayaan besar hanya dimiliki oleh 3 persen responden. Sebaliknya, penasihat keuangan profesional masih mendapat kepercayaan lebih tinggi, dengan sekitar 80 persen responden yang memiliki sebagian kepercayaan terhadap jasa mereka. Namun, hanya sekitar sepertiga yang benar-benar menggunakan jasa penasihat profesional dalam setahun terakhir.
Alasan Pemilihan Sumber Nasihat Keuangan
Penggunaan AI dan riset mandiri di internet lebih diminati karena biayanya yang relatif rendah dibandingkan menggunakan penasihat keuangan profesional. Generasi muda seperti Gen Z dan milenial lebih banyak menggunakan AI, dengan sekitar seperempat responden dari kelompok tersebut memanfaatkan teknologi ini. Sementara itu, generasi yang lebih tua seperti Gen X dan baby boomer cenderung lebih memilih menggunakan jasa penasihat keuangan profesional.
Manfaat dan Keterbatasan AI dalam Nasihat Keuangan
Menurut Associate Professor MIT Sloan School of Management, Taha Choukhmane, AI sebaiknya digunakan sebagai alat untuk memahami konsep keuangan yang kompleks, seperti pasar saham, reksa dana, dan dana indeks. AI dapat membantu menjelaskan istilah dan konsep, sehingga mendorong masyarakat untuk belajar lebih lanjut. Namun, Choukhmane menekankan pentingnya memverifikasi informasi dari AI dengan sumber terpercaya lain.
Selain itu, AI tidak memiliki tanggung jawab hukum atau kewajiban fidusia seperti perencana keuangan bersertifikat. Bobbi Rebell, pendiri Financial Wellness Strategies, mengingatkan bahwa keputusan akhir dalam pengelolaan keuangan tetap menjadi tanggung jawab individu, karena AI tidak dapat memahami kondisi hidup dan kebutuhan pribadi secara menyeluruh.
Konteks dan Implikasi
Survei Gallup menunjukkan perubahan pola dalam cara masyarakat mencari nasihat keuangan, dipengaruhi oleh faktor biaya dan kemudahan akses teknologi. Meskipun AI memberikan kemudahan, masyarakat disarankan untuk tetap kritis dan menggunakan AI sebagai pendukung, bukan pengganti, penasihat profesional.
Dengan perkembangan teknologi yang terus maju, penting bagi pengguna untuk memahami batasan AI dan tetap mengutamakan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan agar keputusan keuangan yang diambil tetap tepat dan aman.















Tinggalkan Balasan