Media Kampung, Jakarta – Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menegaskan bahwa ketimpangan ekonomi antara orang kaya dan miskin menjadi masalah utama yang dihadapi Jakarta saat ini. Hal tersebut disampaikan dalam acara Doa Bersama dan Zikir Kebangsaan di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, pada Minggu (9/8/2026).

Ketimpangan Ekonomi di Jakarta

Pramono menjelaskan bahwa Jakarta merupakan pusat berkumpulnya masyarakat dari berbagai lapisan ekonomi, mulai dari yang sangat kaya hingga yang kurang beruntung. Kondisi ini menyebabkan ketimpangan pendapatan menjadi tantangan serius bagi pemerintah daerah.

Baca juga:

Salah satu indikator yang digunakan untuk mengukur ketimpangan tersebut adalah rasio gini, yang menurut Pramono mencapai angka 0,422 di Jakarta. Rasio gini adalah ukuran statistik untuk menilai distribusi pendapatan atau pengeluaran masyarakat di suatu wilayah, dengan nilai 0 menunjukkan pemerataan sempurna dan nilai 1 menunjukkan ketimpangan sempurna. Angka 0,422 menunjukkan bahwa kesenjangan sosial-ekonomi di Jakarta masih cukup signifikan.

Dampak Ketimpangan pada Wilayah Aglomerasi

Selain penduduk yang secara administratif tinggal di Jakarta, Pramono juga menyoroti dampak ketimpangan ini terhadap wilayah aglomerasi yang bergantung pada aktivitas ekonomi di Jakarta. Ia menyampaikan bahwa hampir 40 juta orang menggantungkan kehidupan mereka pada Jakarta dan wilayah sekitarnya.

Baca juga:

Hal ini menunjukkan bahwa permasalahan ketimpangan ekonomi Jakarta tidak hanya berdampak pada kota itu sendiri tetapi juga pada wilayah sekitarnya yang merupakan bagian dari aglomerasi metropolitan Jakarta.

Peran Pemerintah dalam Menangani Ketimpangan

Menanggapi kondisi ini, pemerintah daerah diharapkan untuk memperhatikan dan mengambil langkah konkret dalam mengurangi kesenjangan pendapatan melalui berbagai program sosial dan ekonomi yang inklusif. Pengelolaan sumber daya dan kebijakan yang berpihak kepada kelompok kurang mampu menjadi kunci dalam mengatasi masalah tersebut.

Baca juga:

Dengan upaya bersama, diharapkan Jakarta dapat menjadi kota yang lebih adil dan merata bagi seluruh warganya, serta mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan di wilayah aglomerasi.