Media Kampung – Harga minyak mentah mengalami penurunan sekitar 2 persen pada perdagangan Jumat, 26 September 2026, menyusul sinyal positif terkait pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran untuk membuka kembali jalur pengiriman energi utama dunia di Selat Hormuz.

Penurunan Harga Minyak

West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman November turun 2,3 persen menjadi USD 92,41 per barel di New York, sementara Brent turun 2,1 persen menjadi USD 104,32 per barel. Penurunan ini terjadi setelah kedua negara menunjukkan kemungkinan terobosan dalam negosiasi yang memungkinkan Iran membuka kembali Selat Hormuz dan AS mencabut blokade pelabuhan Iran.

Konteks Pembicaraan AS dan Iran

Meski telah ada beberapa kali negosiasi yang gagal sebelumnya, sinyal terbaru menunjukkan kemajuan. Presiden AS saat itu, Donald Trump, menyatakan kesediaannya untuk berdialog dengan Iran, meski menekankan posisi AS yang kuat berkat sanksi dan blokade yang diterapkan.

Faktor Lain yang Mempengaruhi Pasar Minyak

Harga minyak juga dipengaruhi oleh sinyal campuran terkait perdamaian di Timur Tengah, peningkatan arus pengiriman, serta spekulasi tentang kemungkinan larangan ekspor solar oleh AS. Brent mencatat kenaikan lebih dari 70 persen sepanjang tahun ini, menambah tekanan inflasi global.

Indikator pasar fisik menunjukkan ketatnya pasokan minyak, dengan premi tinggi untuk pengiriman cepat di pusat penyimpanan utama AS dan premi luas di pasar Eropa. Beberapa kilang Eropa bahkan diberitahu akan pengurangan alokasi minyak dari Arab Saudi akibat penutupan pipa Timur-Barat karena serangan militan.

Risiko dan Keamanan di Kawasan Timur Tengah

Risiko pengiriman tetap tinggi di Selat Hormuz, dengan insiden kapal kargo terbakar akibat proyektil yang tidak dikenal. Serangan rudal juga terjadi di pelabuhan Laut Merah dan kota Taif oleh militan yang didukung Iran.

Spekulasi Larangan Ekspor Solar

Pasar bahan bakar menghadapi spekulasi mengenai kemungkinan larangan ekspor solar oleh pemerintah AS sebagai upaya menurunkan harga domestik. Namun, para pelaku pasar skeptis terhadap efektivitas langkah tersebut, mengingat bantuan yang diberikan kemungkinan bersifat sementara.

Perkembangan ini penting untuk dipantau karena dapat memengaruhi harga energi global dan kondisi ekonomi dunia secara luas.