Media Kampung – Transformasi digital di sektor perbankan menghadirkan tantangan baru dalam menjaga keamanan data, terutama data yang digunakan untuk melatih model kecerdasan buatan. Perlindungan data pelatihan menjadi aspek krusial agar sistem digital yang diimplementasikan tidak rentan terhadap ancaman siber yang semakin kompleks.

Model kecerdasan buatan yang digunakan dalam perbankan tidak hanya menghadapi risiko kebocoran data tersimpan maupun jalur komunikasi, tetapi juga risiko unik seperti kebocoran data pelatihan, perlindungan model sebagai aset digital, serta pengamanan terhadap perilaku model ketika menerima masukan yang berpotensi mengecoh.

Baca juga:

Risiko Tambahan pada Sistem Berbasis Model

Sistem konvensional biasanya fokus pada perlindungan data tersimpan dan jalur transmisi. Namun, sistem berbasis model perlu memperhatikan beberapa lapisan tambahan:

  • Data pelatihan: Data yang digunakan untuk melatih model harus dilindungi agar identitas dan informasi sensitif tidak bocor.
  • Model itu sendiri: Sebagai aset digital yang bernilai, model harus diamankan dari akses dan modifikasi tidak sah.
  • Perilaku model: Model harus diuji untuk menahan serangan berupa masukan yang dirancang untuk mengecoh atau mengelabui sistem.

Delapan Pilar Keamanan Data untuk Model AI di Perbankan

Untuk mengatasi risiko tersebut, ada delapan langkah penting yang harus dipenuhi dalam pengembangan dan pengoperasian sistem berbasis model kecerdasan buatan di sektor perbankan:

  1. Penyamaran identitas sebelum pelatihan: Data pribadi yang tidak relevan dihilangkan atau diganti untuk mencegah kebocoran identitas saat pelatihan.
  2. Perlindungan data saat penyimpanan dan pengiriman: Melindungi data pelatihan, model, serta input dan output selama operasi sistem.
  3. Pembatasan akses berdasarkan peran: Hanya pihak yang berwenang yang dapat mengakses data mentah dan lingkungan produksi.
  4. Pengamanan jalur antarmuka: Validasi masukan secara ketat dan pembatasan laju permintaan untuk mencegah penyalahgunaan.
  5. Pemeriksaan celah secara berkala: Rutin memeriksa celah keamanan selama pengembangan, bukan hanya sebelum peluncuran.
  6. Pencatatan aktivitas yang tidak bisa diubah: Merekam aktivitas penting dengan data sensitif yang disamarkan untuk audit dan keamanan.
  7. Pengujian ketahanan model: Menguji model terhadap masukan yang sengaja dibuat untuk mengecoh sistem.
  8. Pemeriksaan pustaka pihak ketiga: Memastikan keamanan dan keaslian pustaka eksternal yang digunakan dalam pengembangan model.

Pentingnya Pemetaan Ancaman Sejak Awal

Daftar pemeriksaan keamanan tidak cukup tanpa pemetaan ancaman yang spesifik terhadap sistem yang dikembangkan. Pertanyaan seperti siapa potensi penyalahguna, data mana yang paling berharga, dan jalur mana yang paling mungkin ditempuh harus dijawab sejak tahap perancangan. Hal ini membantu memfokuskan sumber daya pada titik risiko tertinggi sehingga perlindungan menjadi lebih efektif dan efisien.

Baca juga:

Kepatuhan Regulasi dan Dampaknya pada Arsitektur Sistem

Di Indonesia, regulasi perlindungan data pribadi dan pengamanan informasi yang berlaku di sektor keuangan mempengaruhi keputusan teknis dalam desain sistem. Aspek seperti lokasi pemrosesan data, durasi penyimpanan, dan hak pemilik data harus dipertimbangkan sejak awal. Memenuhi persyaratan ini setelah sistem berjalan cenderung lebih mahal dan rumit dibandingkan jika dirancang dari awal.

Kapan Sistem Keamanan Perlu Ditinjau

Peninjauan keamanan sistem berbasis model harus dilakukan secara proaktif. Beberapa tanda yang menunjukkan perlunya evaluasi ulang meliputi:

  • Data pribadi digunakan dalam pelatihan tanpa penyamaran identitas.
  • Tidak dilakukan pemetaan ancaman pada tahap perancangan.
  • Jalur antarmuka model belum memiliki pembatasan laju atau validasi input yang ketat.
  • Model belum diuji terhadap masukan yang dirancang untuk mengecoh.
  • Pustaka pihak ketiga belum diperiksa keamanannya.
  • Akses ke data mentah belum dibatasi sesuai peran pengguna.
  • Belum diketahui data mana yang memiliki ketentuan pemrosesan khusus.

Langkah Implementasi Bersama Sagara Technology

Sagara Technology menawarkan pendekatan bertahap yang dimulai dengan asesmen kondisi keamanan dan klasifikasi data yang ada. Proses ini mencakup konsultasi discovery untuk memetakan data dan kewajiban yang berlaku, audit arsitektur untuk mengidentifikasi celah risiko tertinggi, serta implementasi perbaikan berdasarkan prioritas risiko. Pendekatan ini juga dilengkapi dengan dokumentasi keamanan yang mendukung tim kepatuhan klien dalam proses verifikasi internal.

Baca juga:

Dengan fokus pada perlindungan data pelatihan, keamanan model sebagai aset, dan ketahanan model terhadap serangan, solusi yang dikembangkan Sagara Technology dirancang untuk sektor perbankan yang mengelola data paling sensitif, sehingga keamanan sistem dapat terjamin sejak awal dan menghindari biaya tambahan di masa depan.