Media Kampung – 10 April 2026 | Setelah dua minggu gencatan senjata yang dimediasi Pakistan, putra Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, menyampaikan pesan tertulis lewat televisi negara.
Pesan itu muncul pada hari Kamis, 9 April 2026, bertepatan dengan peringatan 40 hari wafatnya ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei.
Dalam pernyataannya, Mojtaba menegaskan Iran tidak pernah menginginkan perang, namun menolak menyerah pada agresi Amerika Serikat dan Israel.
Ia menambahkan bahwa rakyat Iran telah meraih kemenangan meski berada di bawah tekanan militer lawan.
“Kami tak pernah ingin perang, dan kami tak pernah mau berperang,” ujar Khamenei, mengutip kata‑kata yang disiarkan pada jaringan TV resmi.
Dia menegaskan Iran akan mempertahankan hak dan legitimasi negara dalam segala kondisi, termasuk melalui front perlawanan regional.
Khamenei juga menyebut peran proksi Iran, seperti Hizbullah, tetap aktif meski tidak terlibat dalam gencatan senjata yang sama.
Setelah gencatan, Israel melancarkan serangan terhadap posisi Hizbullah di Lebanon, menewaskan ratusan orang.
Sementara itu, Khamenei mengumumkan rencana strategis untuk meningkatkan pengelolaan Selat Hormuz, jalur energi vital dunia.
“Kami pasti akan memajukan pengelolaan Selat Hormuz ke tahap baru,” katanya, menandai ambisi Iran menguasai kontrol maritim pasca‑konflik.
Rencana tersebut mencakup peningkatan tingkat pengendalian dan keamanan di selat, menurut laporan The Jerusalem Post.
Di balik keputusan gencatan, peran Pakistan menjadi sorotan utama.
Pakistani menengahi antara Washington dan Tehran melalui Perdana Menteri Shehbaz Sharif dan Kepala Staf Angkatan Darat Asim Munir.
Negara tersebut menyampaikan sepuluh poin proposal Iran kepada Presiden AS Donald Trump, yang kemudian disetujui menjelang tenggat waktu.
Trump mengumumkan penerimaan proposal tersebut pada 9 April, menjanjikan penangguhan serangan selama dua minggu.
Pakistani menegaskan posisi mereka sebagai mediator yang kredibel, meski tidak banyak muncul dalam pemberitaan internasional.
Menurut analis Universitas Quaid-e-Azam Islamabad, Islamabad mengaktifkan diplomasi jalur belakang untuk menyelaraskan kepentingan Amerika dan Iran.
Pakistani juga menawarkan Islamabad sebagai lokasi aman bagi delegasi kedua belah pihak dalam pembicaraan lanjutan.
Peran mediasi ini dipandang meningkatkan citra Pakistan di kancah internasional, kata Kepala Pusat Riset Politik BRIN, Athiqah Nur Alami.
Pakistani memanfaatkan faktor geografisnya, berbatasan langsung dengan Iran, serta keberadaan minoritas Syiah yang signifikan.
Kematian Ayatollah Ali Khamenei pada akhir Februari memicu protes di Pakistan, menambah urgensi peran Islamabad.
Sejumlah pakar menilai bahwa tanpa dukungan Pakistan, kesepakatan gencatan mungkin tidak akan terwujud mengingat ketegangan regional.
Di sisi Amerika, Trump menekankan pentingnya membuka Selat Hormuz secara lengkap, aman, dan segera sebagai syarat gencatan.
Namun, Israel tetap menolak menandatangani kesepakatan serupa, melanjutkan operasi militer di Lebanon.
Para analis menilai gencatan senjata ini bersifat “operasional” dan belum menjamin perdamaian jangka panjang.
Stimson Center menyoroti bahwa keberhasilan mediasi Pakistan membuka peluang untuk negosiasi lebih luas, namun risiko kegagalan tetap tinggi.
Iran berupaya memanfaatkan momentum diplomatik untuk menegaskan kembali haknya atas Selat Hormuz.
Kontrol atas selat menjadi instrumen tawar penting bagi Tehran dalam hubungan dengan dunia Barat.
Para pengamat menekankan bahwa keberlanjutan gencatan bergantung pada verifikasi dan komitmen bersama, bukan sekadar pernyataan politik.
Jika perundingan lanjutan di Islamabad berhasil, gencatan dapat bertransformasi menjadi kesepakatan yang lebih struktural.
Sejauh ini, tidak ada indikasi bahwa kedua belah pihak akan melanjutkan aksi militer sebelum tanggal 23 April.
Situasi tetap rapuh, dan dunia menanti hasil negosiasi berikutnya untuk menilai apakah gencatan ini akan menjadi jeda atau langkah menuju perdamaian yang lebih permanen.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.






