Media Kampung – Kenaikan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia memunculkan rekomendasi dari ekonom agar masyarakat lebih bijak dalam mengelola keuangan. Di tengah ketidakpastian ekonomi saat ini, penting bagi individu untuk hidup hemat dan menghindari pengeluaran yang melebihi kemampuan finansial.
Wijayanto Samirin, Ekonom Senior dari Universitas Paramadina, menyatakan bahwa tingginya suku bunga membuat beban cicilan utang menjadi lebih berat. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya mengurangi ketergantungan pada pinjaman dan mengatur pengeluaran sesuai dengan pendapatan. “Pertama harus hidup hemat dan cermat. Jadi spending harus disesuaikan dengan kemampuan. Hindari spending yang memaksakan diri untuk berhutang,” ujarnya dalam wawancara bersama Pro3 RRI pada Senin, 25 Mei 2026.
Selain itu, bagi pelaku usaha dan UMKM, situasi ini menjadi momen untuk meningkatkan efisiensi operasional. Kreativitas dalam mempertahankan pangsa pasar dinilai krusial agar bisnis dapat bertahan. Wijayanto menegaskan bahwa usaha perlu bekerja ekstra keras dan kreatif menghadapi kondisi yang menantang. “Untuk dunia usaha, ini saatnya untuk meningkatkan efisiensi. Memang harus bekerja keras, kreatif untuk mempertahankan pasar, tidak ada jalan lain,” ucapnya.
Dalam hal kebijakan moneter, Wijayanto menilai peluang penurunan suku bunga acuan pada tahun ini sangat kecil. Bank Indonesia kemungkinan akan lebih fokus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah fluktuasi ekonomi global yang terus berlangsung.
Di sisi investasi, ia merekomendasikan masyarakat memilih instrumen yang bisa mengimbangi inflasi, seperti surat utang negara atau Obligasi Ritel Indonesia (ORI). Instrumen ini dianggap efektif dalam melindungi daya beli di tengah inflasi yang diperkirakan tetap tinggi. Selain itu, logam mulia masih menjadi pilihan yang menarik untuk investasi jangka panjang. Sektor properti juga mulai terlihat sebagai peluang investasi, terutama jika harga mengalami penurunan dan lokasi properti strategis.
Namun, Wijayanto mengingatkan agar keputusan investasi selalu mempertimbangkan kemampuan finansial dan risiko yang menyertainya. Ia juga menekankan pentingnya menjaga pekerjaan dan meningkatkan produktivitas sebagai aset utama di tengah kondisi ekonomi yang belum pasti.
Kondisi pasar yang penuh tantangan saat ini menuntut masyarakat agar lebih berhati-hati dan adaptif dalam mengatur keuangan, tidak hanya untuk menjaga kestabilan ekonomi pribadi tetapi juga untuk mendukung kelangsungan usaha dan investasi yang sehat.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.






Tinggalkan Balasan