Media Kampung, Malang — Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Wisata Poncokusumo sukses menggelar Festival Srawung Kusumo di kawasan Bumi Perkemahan Ledok Ombo. Festival ini tidak hanya menghidupkan kembali ruang budaya tradisional, tetapi juga memicu geliat ekonomi lokal melalui keterlibatan pelaku UMKM.
Dalam penyelenggaraannya, Pokdarwis menggandeng delapan mahasiswa dari tim Naraswara Brand Activation 3 Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sebagai kolaborator. Mereka membantu mengemas konsep acara secara interaktif agar lebih relevan bagi generasi muda.
Mengusung Tema Kebersamaan
Festival yang berlangsung pada awal Juli 2026 ini mengusung tema “Roso Kusumo Handarbeni Lanyawiji”. Ketua Pokdarwis Desa Wisata Poncokusumo, Purna Irawan, menjelaskan bahwa tema tersebut lahir dari semangat menumbuhkan rasa memiliki dan kebersamaan dalam melestarikan budaya lokal.
Kata “srawung” sendiri memiliki filosofi mendalam yang berarti berkumpul atau bergaul, sebagaimana masyarakat desa yang aktif bertetangga dan bersosialisasi. “Melalui ruang interaktif ini, Pokdarwis ingin mempertemukan masyarakat luas dengan kekayaan tradisi Poncokusumo yang kini sudah mulai langka ditemui dalam kehidupan sehari-hari,” kata Purna kepada RRI Malang, Selasa (14/7/2026).
Pengalaman Budaya Interaktif
Sepanjang festival, pengunjung yang memadati area Ledok Ombo tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga dilibatkan langsung dalam berbagai permainan tradisional seperti egrang, dengklik, gasing, bangkiak, hingga tulupan. Selain itu, pengunjung dapat menikmati cita rasa kuliner khas daerah, termasuk tradisi minum kopi unik melalui welcome drink Kopi Nyokot Gulo, di mana penikmatnya meminum kopi sambil menggigit gula secara terpisah, serta hidangan lokal bernama Kolak Goblok.
Dampak Ekonomi bagi Masyarakat
Purna Irawan menegaskan bahwa dampak Festival Srawung Kusumo tidak berhenti pada edukasi budaya, tetapi juga menyasar sektor pemberdayaan ekonomi masyarakat. Pokdarwis menyediakan arena khusus bagi para pelaku UMKM setempat untuk memperkenalkan produk unggulan mereka, mulai dari kerajinan lokal hingga batik khas daerah. Kehadiran pasar rakyat di tengah festival ini diharapkan mampu mengangkat potensi pariwisata Poncokusumo secara holistik sekaligus memberikan dampak finansial yang nyata bagi warga sekitar.
Penutup Meriah dengan Kuda Lumping
Kemeriahan festival ditutup dengan penampilan seni tari Kuda Lumping yang berhasil menyedot perhatian dan antusiasme tinggi dari para pengunjung hingga akhir acara. Kegiatan ini membuktikan bahwa pengemasan budaya yang kreatif dan adaptif terhadap perkembangan zaman mampu menarik minat generasi muda untuk tetap mencintai, menjaga, dan menghidupkan kembali warisan tradisi lokal.






















Tinggalkan Balasan