Media Kampung, BangkaBarongsai, tarian tradisional Tiongkok yang menggunakan properti sarung menyerupai singa, telah mendunia dan menjadi bagian dari perayaan Tahun Baru Imlek serta berbagai acara besar. Kesenian ini tidak hanya digemari oleh masyarakat Tionghoa, tetapi juga oleh berbagai kalangan lintas etnis di Indonesia.

Sejarah Barongsai tercatat sudah muncul sejak ribuan tahun lalu. Awalnya, tarian ini bertujuan mendatangkan keberuntungan, yang dapat ditelusuri pada masa Dinasti Chin sekitar abad ketiga sebelum Masehi. Kesenian Barongsai mulai populer pada zaman Dinasti Selatan-Utara (Nan Bei) tahun 420–589 Masehi. Saat itu, pasukan Raja Song Wen Di kewalahan menghadapi serangan pasukan gajah Raja Fan Yang dari negeri Lin Yi. Seorang panglima perang bernama Zhong Que kemudian membuat tiruan boneka singa untuk mengusir pasukan gajah tersebut. Upaya itu sukses, dan tarian Barongsai pun melegenda hingga kini.

Ketua Klenteng Kwan Tie Miau Sungailiat, Sung Sun Khin, mengatakan bahwa Barongsai selalu menjadi bagian ritual setiap perayaan Tahun Baru Imlek, dengan iringan musik khas berupa drum, simbal, dan gong. “Kalau Imlek itu wajiblah ada Barongsai, setiap tahun selalu ada. Begitu juga di acara besar lainnya,” ujarnya kepada rri.co.id, Sabtu (21/1/2023).

Dalam kepercayaan Khonghucu, pertunjukan Barongsai bertujuan mengusir roh jahat serta menciptakan suasana meriah dan membawa kebahagiaan. “Singa itu melambangkan kekuatan, kebijaksanaan, dan keunggulan. Karena itu, singa barongsai diharapkan dapat membawa keberuntungan pada Hari Raya Imlek,” tambah Sung Sun Khin.

Kini, Barongsai telah berkembang menjadi salah satu jenis olahraga yang digeluti tidak hanya oleh orang Tionghoa, tetapi juga oleh masyarakat dari berbagai latar belakang. “Kalau kita perhatikan saat ini karena memang sudah menjadi olahraga, justru lebih banyak warga selain Tionghoa yang aktif main Barongsai. Hampir semuanya anak-anak dari mana pun ikut Barongsai sekarang. Sungguh membuat kita bangga,” ujar Sung Sun Khin.

Dedi, seorang pemain Barongsai, mengaku jatuh cinta dengan kesenian ini sejak di bangku SMA. Meskipun seorang muslim, ia tetap menggeluti Barongsai hingga sekarang. “Saya SMA di Setia Budi, mulai di situ saya ikut barongsai jadi suka sekali walau pun saya seorang muslim. Barongsai ini udah dicintai lintas agama ya. Sampai sekarang masih main barongsai, bisa dikatakan sudah jatuh cinta lah dengan kesenian asli Tiongkok ini,” ucapnya.