Media Kampung, Madiun — Empat siswa MAN 2 Kota Madiun berhasil mengharumkan nama Indonesia dengan meraih satu medali emas dan satu medali perak dalam ajang Student Conference 16th World Robotic for Peace International 2026 yang digelar di Malaysia dan Singapura pada Juni lalu.
Prestasi ini ditorehkan oleh Raihan Pramudita Badnagar dan Arwindha Quinnsa Berlin Humaira yang meraih Gold Medal, serta Errickxandy Farentra Gurindogana bersama Kayla Zulfaa Afzawidya yang berhasil membawa pulang Silver Medal. Mereka bersaing dengan lebih dari 150 peserta dari berbagai negara.
Bukan Sekadar Robotika
Meski membawa nama kompetisi robotika, kategori yang diikuti bukanlah membuat atau memprogram robot. Mereka mengikuti International Student Conference, yaitu kompetisi presentasi hasil penelitian yang dinilai berdasarkan kualitas riset, inovasi, dampak bagi masyarakat, serta kemampuan presentasi di hadapan dewan juri internasional.
Penelitian Sosial dan Lingkungan
Tim peraih medali emas mengangkat penelitian tentang pemberdayaan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) melalui kegiatan ecoprint dan pembuatan batako. Ide ini lahir dari keinginan membuktikan bahwa penyandang gangguan jiwa yang menjalani rehabilitasi tetap memiliki potensi berkarya. Raihan dan Arwinda melakukan observasi langsung ke pusat rehabilitasi di Kabupaten Ngawi selama beberapa bulan.
“Awalnya kami sempat minder karena ini kompetisi internasional. Tekanannya tentu berbeda. Tetapi kami terus berusaha menghadirkan sesuatu yang benar-benar memiliki nilai dan manfaat bagi masyarakat,” ungkap Raihan.
Sementara itu, tim peraih medali perak mengolah limbah kulit kacang menjadi briket ramah lingkungan sebagai bahan bakar alternatif. Penelitian ini berawal dari kebiasaan menikmati sambal pecel khas Madiun. “Kalau dari kita sendiri ada produk itu briket limbah kulit kacang atau kita singkat namanya brilliant,” kata Kayla. Proses penelitian membutuhkan uji coba berkali-kali, termasuk kegagalan saat pembakaran. Namun, mereka terus melakukan perbaikan hingga menghasilkan produk layak presentasi.
“Kami ingin menunjukkan bahwa limbah yang dianggap tidak berguna ternyata bisa memiliki nilai ekonomi sekaligus bermanfaat bagi lingkungan,” ujar Errick.
Apresiasi Juri dan Pengalaman Berharga
Keunikan kedua penelitian mendapat perhatian khusus dewan juri. Tim ecoprint dinilai berhasil menghadirkan inovasi sosial yang menyentuh aspek kemanusiaan, sedangkan tim briket dinilai mampu mengembangkan solusi ramah lingkungan dengan memanfaatkan potensi lokal. Selain presentasi, keempat siswa harus menjawab pertanyaan juri dalam bahasa Inggris. Selama lima hari di Singapura dan Malaysia, mereka juga belajar tentang budaya dan kualitas inovasi dari peserta internasional.
Keberhasilan ini tidak lepas dari dukungan penuh sekolah, guru pembimbing, keluarga, dan teman-teman. Pendampingan intensif sejak penyusunan ide, penelitian lapangan, hingga simulasi presentasi menjadi kunci keberhasilan mereka.
Bagi keempat pelajar, kemenangan ini menjadi penyemangat untuk terus berinovasi dan mengikuti kompetisi lain, membuktikan bahwa pelajar Indonesia mampu bersaing di tingkat global melalui karya yang bermanfaat bagi masyarakat.























Tinggalkan Balasan