Media Kampung, Madiun — Pemberian gadget sebagai ‘penenang’ saat orang tua lelah mengasuh anak dinilai menjadi salah satu pemicu kecanduan layar digital pada anak. Jika dibiarkan sejak usia dini, kebiasaan ini berpotensi mengganggu perkembangan kemampuan mengatur emosi, perhatian, dan perilaku anak.
Psikolog sekaligus Founder psikologanak.id, Robik Anwar Dani, M.Psi., Psikolog, mengatakan bahwa masa awal kehidupan merupakan periode penting bagi anak untuk belajar mengembangkan berbagai kemampuan dasar melalui interaksi dengan lingkungan. Ia menjelaskan, saat anak memasuki usia sekitar dua tahun, mereka berada pada fase eksplorasi dengan rasa ingin tahu yang tinggi. Namun, tidak sedikit orang tua yang memilih memberikan gadget agar anak lebih tenang ketika merasa lelah.
“Ketika screen time diberikan secara berlebihan, melebihi kapasitas yang seharusnya, tahapan belajar yang seharusnya berkembang pada anak menjadi tidak optimal. Akibatnya anak menjadi sangat mudah terpaku pada layar,” ujar Robik, Minggu (13/7/2026).
Ia menambahkan, tampilan visual yang penuh warna, gerakan cepat, serta suara yang terus berubah pada gadget memberikan stimulasi yang sangat kuat bagi otak anak. Kondisi tersebut membuat anak lebih tertarik pada layar dibandingkan aktivitas bermain atau belajar secara langsung. Dampaknya, anak berpotensi menunjukkan ketergantungan terhadap gadget. Saat perangkat tersebut diambil, mereka lebih mudah marah, menangis, bahkan mengalami tantrum karena kemampuan mengelola emosi dan mengendalikan diri masih dalam tahap perkembangan.
Kebiasaan Scroll Video Pendek Perpendek Rentang Perhatian
Robik juga menyoroti kebiasaan menggulir (scroll) video pendek yang kini banyak ditemui di berbagai platform media sosial. Menurutnya, berbagai penelitian terbaru menunjukkan pola konsumsi konten semacam ini dapat memengaruhi perkembangan psikologis anak, terutama pada kemampuan mempertahankan perhatian atau attention span.
Ia menjelaskan, anak yang terbiasa mengonsumsi video berdurasi singkat dengan pergantian gambar yang cepat akan lebih sulit berkonsentrasi dalam waktu lama ketika harus mempelajari sesuatu. “Riset terbaru menunjukkan bahwa kebiasaan melihat konten dengan scroll yang sangat mudah dan video pendek membuat rentang perhatian atau attention span anak menjadi lebih pendek,” katanya.
Padahal, proses belajar membutuhkan kemampuan memusatkan perhatian selama beberapa menit untuk memahami informasi secara utuh. Sebaliknya, anak yang terbiasa memperoleh hiburan instan dari video singkat akan cenderung cepat merasa bosan dan langsung berpindah ke konten lain hanya dengan satu kali usapan layar. “Anak menjadi terbiasa mendapatkan reward secara instan. Kalau merasa kontennya tidak menarik, mereka tinggal scroll. Kebiasaan ini akhirnya membuat kemampuan mereka untuk mempertahankan perhatian menjadi semakin pendek,” tuturnya.
Robik yang juga dosen Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) Kampus Madiun ini mengingatkan orang tua untuk lebih bijak dalam memberikan akses gadget pada anak. Ia menyarankan agar screen time dibatasi sesuai usia dan diimbangi dengan aktivitas interaktif yang mendukung perkembangan anak.























Tinggalkan Balasan