Media Kampung, Jakarta – Rupiah menguat pada pembukaan perdagangan Rabu, 9 September 2026, menembus level Rp17.588 per dolar Amerika Serikat, naik 0,25% dibandingkan penutupan sebelumnya. Penguatan ini didorong oleh kebijakan insentif likuiditas dan peningkatan cadangan devisa Bank Indonesia.

Kebijakan insentif likuiditas yang diperluas oleh Bank Indonesia bertujuan menstabilkan nilai tukar rupiah serta mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Langkah ini dipadukan dengan kebijakan moneter dan makroprudensial lainnya untuk menarik aliran modal asing.

Baca juga:

Data resmi menunjukkan cadangan devisa Indonesia mencapai US$146,5 miliar pada akhir Agustus 2026, naik dari US$145,3 miliar pada akhir Juli. Cadangan tersebut setara dengan pembiayaan lebih dari lima bulan impor, jauh di atas standar kecukupan internasional yang biasanya tiga bulan.

Bank Indonesia menilai posisi cadangan devisa yang kuat dapat menahan tekanan eksternal dan menjaga stabilitas makroekonomi. Selain itu, kebijakan insentif likuiditas memberikan dukungan langsung kepada pasar uang, memperkecil volatilitas nilai tukar rupiah.

Baca juga:

Para pengamat pasar menilai bahwa stabilisasi nilai tukar rupiah akan menurunkan biaya pembiayaan bagi perusahaan, meningkatkan kepercayaan investor, dan membuka ruang bagi pemulihan pasar saham. Dengan cadangan devisa yang memadai, Bank Indonesia diperkirakan tidak akan menaikkan suku bunga lebih lanjut pada kuartal mendatang.

ItemNilai
Nilai Tukar Rupiah (USD)Rp17.588 per USD
Cadangan DevisaUS$146,5 miliar

Ke depan, Bank Indonesia akan terus memantau perkembangan pasar global dan menyesuaikan kebijakan bila diperlukan, dengan tujuan utama menjaga nilai tukar rupiah tetap stabil dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Baca juga: