Media KampungNilai tukar rupiah terus tertekan hingga menembus level Rp18.197 per dolar AS pada awal Juni 2026, memicu spekulasi di masyarakat mengenai kemungkinan Indonesia beralih menggunakan yuan. Namun, klaim bahwa Indonesia akan meninggalkan dolar dan beralih ke yuan belum didukung bukti dari sumber resmi.

Pelemahan rupiah dipicu oleh empat faktor utama menurut riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia. Pertama, tekanan eksternal akibat eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah yang memicu lonjakan harga minyak mentah dunia hingga 27 persen. Kedua, memburuknya persepsi fiskal Indonesia di mata investor. Ketiga, ketidakpastian kebijakan pemerintah. Keempat, persoalan struktural dalam neraca pembayaran.

Konflik militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran sejak 28 Februari 2026 mendorong harga minyak Brent mencapai US$118,35 per barel pada puncaknya, jauh di atas asumsi APBN 2026 sebesar US$70 per barel. Sebagai negara net importir minyak, Indonesia harus mengeluarkan lebih banyak dolar untuk impor energi, sehingga meningkatkan kebutuhan valas dan menekan rupiah.

Data terbaru menunjukkan rupiah dibuka melemah ke Rp18.129 pada 8 Juni 2026, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi tajam 2,92 persen ke level 5.431. Pengamat ekonomi Ibrahim Assuaibi menyatakan tekanan berpotensi berlanjut hingga akhir Juni jika faktor pemicu belum mereda.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai pelemahan rupiah dan IHSG lebih dipicu oleh persepsi negatif yang tidak akurat terhadap ekonomi Indonesia. Ia mengklaim perekonomian nasional tetap stabil dan akan memperkuat koordinasi kebijakan fiskal bersama Bank Indonesia untuk memulihkan pasar.

Meski demikian, hingga saat ini tidak ada pernyataan resmi dari pemerintah atau Bank Indonesia yang mengindikasikan rencana pergeseran ke yuan. Klaim bahwa Indonesia akan meninggalkan dolar AS tidak memiliki dasar dari sumber yang kredibel. Dengan demikian, informasi tersebut perlu diklarifikasi sebagai hoaks.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.