Media Kampung – Nilai tukar rupiah yang melemah terus mendapat perhatian karena berpotensi mendorong kenaikan harga kebutuhan pokok, transportasi, dan energi di dalam negeri. Tekanan terhadap rupiah semakin kuat seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memperburuk ketidakpastian ekonomi global.
Hingga kini, kurs rupiah berkisar di angka Rp17.400 per dolar Amerika Serikat, menandai tren pelemahan yang telah berlangsung selama hampir tiga dekade. Akademisi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada, Rijadh Djatu Winardi, S.E., M.Sc., Ph.D., menyebut kondisi ini sebagai “perfect storm” yang merupakan akumulasi dari berbagai tekanan baik dari faktor global maupun domestik.
Dari sisi dampak, pelemahan rupiah langsung berimbas pada kenaikan biaya impor yang diterjemahkan ke dalam harga barang konsumsi. Fenomena inflasi impor ini menyebabkan perusahaan yang mengandalkan bahan baku impor mengalami kenaikan biaya produksi sehingga harga kebutuhan pokok, biaya transportasi, dan produk kesehatan cenderung meningkat dalam beberapa bulan ke depan.
Rijadh menambahkan, pelemahan rupiah juga memberikan tekanan pada anggaran negara, terutama pada pos belanja yang sensitif terhadap kurs seperti subsidi energi. Ketergantungan pada komponen impor membuat beban subsidi membengkak saat nilai tukar melemah. Selain itu, pembayaran utang luar negeri dalam rupiah turut meningkat sehingga ruang fiskal pemerintah menjadi semakin terbatas.
Dalam menghadapi situasi ini, Bank Indonesia menghadapi dilema antara menjaga stabilitas nilai tukar dan mendukung pertumbuhan ekonomi. Menurut Rijadh, menjaga suku bunga tetap rendah penting untuk menjaga aktivitas ekonomi, namun stabilitas rupiah juga harus diperhatikan. Pendekatan kombinasi seperti intervensi pasar valuta asing dan penerbitan surat berharga menjadi strategi yang diambil untuk menyeimbangkan stabilitas makro dan pertumbuhan.
Rijadh juga menekankan pentingnya disiplin fiskal dan penguatan sektor domestik untuk mengurangi ketergantungan impor, terutama pada pangan dan energi. Peluang untuk mendorong ekspor juga harus dimanfaatkan di tengah pelemahan rupiah. Lebih jauh, program perlindungan sosial harus tetap diperkuat agar masyarakat rentan tidak terlalu terdampak oleh kenaikan harga yang terjadi.
Dengan kondisi yang terus berkembang, masyarakat dan pelaku usaha diharapkan dapat bersiap menghadapi dampak lanjutan dari pelemahan rupiah, sementara pemerintah dan Bank Indonesia terus mengupayakan langkah terbaik dalam menjaga keseimbangan ekonomi nasional.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan