Media Kampung – Cicilan bulanan atau Equated Monthly Instalments (EMI) untuk pinjaman rumah, mobil, dan pendidikan diperkirakan akan meningkat menyusul sinyal kenaikan suku bunga kredit dari beberapa bank besar seperti State Bank of India (SBI) dan Bank of Baroda. Langkah ini diambil untuk menjaga margin keuntungan mereka di tengah kondisi pasar yang menantang.

Dalam konferensi pers laporan keuangan kuartal keempat tahun fiskal 2026, Ketua SBI, CS Setty, mengungkapkan bahwa bank tersebut menetapkan target Net Interest Margin (NIM) sebesar 3 persen untuk tahun fiskal 2027. NIM merupakan selisih antara bunga yang diperoleh dari pinjaman dan bunga yang dibayarkan kepada deposan sebagai ukuran utama profitabilitas bank.

Setty menjelaskan bahwa asumsi utama dari target NIM tersebut adalah tidak adanya perubahan suku bunga acuan atau repo rate sepanjang tahun fiskal 2027. Ia menambahkan bahwa dengan kondisi ini, suku bunga deposito dan hasil pinjaman diperkirakan tidak mengalami kenaikan signifikan. Namun, bank memprediksi adanya perbaikan hasil pinjaman karena perubahan komposisi aset, khususnya dari segmen korporasi.

“Kami melihat adanya peluang untuk menyesuaikan suku bunga pinjaman guna mengimbangi kenaikan biaya dana dari sisi deposito,” ujar Setty. Dia juga menegaskan bahwa tidak ada ruang untuk penurunan suku bunga deposito lebih lanjut, mengingat pertumbuhan kredit yang terus berlanjut di kisaran 13 hingga 15 persen.

Hal senada disampaikan oleh Debadatta Chand, Managing Director dan CEO Bank of Baroda, yang menyatakan bahwa kondisi pasar saat ini cenderung stabil dalam hal penetapan suku bunga deposito. Oleh karena itu, kemungkinan penyesuaian suku bunga lebih besar akan terjadi pada sisi pinjaman sesuai dengan kondisi pasar.

Selain isu suku bunga, SBI juga mengumumkan rencananya untuk melepas sebagian kepemilikan sahamnya di National Stock Exchange (NSE) melalui penawaran umum perdana atau IPO. Saat ini, SBI dan anak perusahaannya, SBI Caps, memegang saham senilai sekitar Rs 43.500 crore di bursa tersebut. Selain SBI, beberapa investor besar seperti Temasek dari Singapura dan Canada Pension Plan Investment Board juga berencana mengurangi kepemilikan saham mereka pada NSE yang akan go public tahun ini.

Secara finansial, SBI mencatatkan kenaikan laba bersih sebesar 13 persen menjadi Rs 80.032 crore untuk tahun fiskal yang berakhir pada 31 Maret 2026. Laba bersih pada kuartal keempat FY26 juga naik 5,6 persen menjadi Rs 19.684 crore. Sementara itu, Bank of Baroda melaporkan laba bersih kuartal keempat FY26 sebesar Rs 5.616 crore, naik 11,2 persen secara tahunan, dan laba bersih tahun fiskal 2026 sebesar Rs 20.021 crore, meningkat 2,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Kenaikan suku bunga kredit yang diperkirakan akan terjadi ini akan berdampak pada besaran EMI yang harus dibayar konsumen untuk berbagai jenis pinjaman, termasuk KPR, kredit kendaraan, dan pinjaman pendidikan. Langkah ini diambil oleh bank-bank besar untuk menjaga kesehatan keuangan mereka di tengah tekanan margin bunga dan kondisi pasar yang dinamis.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.