Media Kampung – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih mengalami tekanan kuat dengan kurs jual yang melampaui Rp17.595 di sejumlah bank besar Indonesia pada Jumat, 15 Mei 2026.
Pergerakan rupiah menunjukkan pelemahan signifikan di tengah gejolak pasar global, termasuk konflik antara AS dan Iran yang memicu sentimen negatif terhadap mata uang negara berkembang. Pada perdagangan hari itu, kurs e-rate di Bank Central Asia (BCA) mencatat harga jual dolar AS di level Rp17.595, yang menjadi yang tertinggi dibandingkan bank lain seperti Bank Rakyat Indonesia, Bank Mandiri, dan Bank Negara Indonesia.
Data dari BCA pada pukul 10.05 WIB menunjukkan kurs beli dolar AS berada di Rp17.445 dan kurs jual Rp17.595. Sementara itu, Bank Rakyat Indonesia menetapkan kurs beli dan jual e-rate masing-masing Rp17.398 dan Rp17.550. Bank Mandiri dan Bank Negara Indonesia juga mematok harga jual dolar di kisaran Rp17.545 hingga Rp17.630 per dolar AS.
Tekanan ini dipengaruhi oleh penguatan dolar AS yang didorong oleh kebijakan moneter Amerika Serikat serta ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menyatakan bahwa penguatan dolar kemungkinan akan terus berlanjut seiring dengan kepemimpinan baru The Fed di bawah Kevin Warsh, yang diperkirakan akan mempertahankan kebijakan moneter ketat tanpa pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat.
Situasi tersebut diperburuk oleh kenaikan harga minyak dunia akibat konflik di Selat Hormuz, yang berdampak pada beban subsidi bahan bakar minyak dalam negeri sekaligus memperlemah rupiah. Ibrahim juga menyinggung potensi pelemahan rupiah hingga menembus level Rp18.000 dalam waktu dekat jika tekanan eksternal tidak mereda, bahkan risiko mencapai Rp22.000 dalam jangka panjang.
Bank Indonesia (BI) telah aktif melakukan intervensi di pasar internasional untuk menahan pelemahan rupiah, termasuk upaya menarik nilai tukar kembali di bawah Rp17.600. Menurut Ibrahim, BI kemungkinan akan menaikkan suku bunga acuan antara 25 hingga 50 basis poin dalam pertemuan mendatang guna memperkuat stabilitas rupiah.
Sementara itu, analis pasar uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, memperingatkan bahwa tanpa perubahan signifikan dari faktor internal maupun eksternal, rupiah berpotensi terus melemah hingga menembus angka psikologis Rp18.000 dalam sebulan ke depan. Lukman menekankan perlunya langkah efisiensi anggaran pemerintah dan kebijakan moneter yang ketat sebagai upaya menjaga stabilitas nilai tukar dan daya beli masyarakat.
Dengan kondisi yang masih volatil, masyarakat dan pelaku pasar diimbau untuk mewaspadai dampak pelemahan rupiah, terutama terhadap harga barang impor dan bahan baku industri yang berpotensi mengalami kenaikan. BI dan pemerintah diharapkan dapat mengambil langkah strategis untuk meredam tekanan tersebut dan menjaga fundamental ekonomi nasional tetap kuat.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan