Media Kampung – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS semakin dalam selama dua hari libur panjang pada akhir Mei 2026. Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 14.00 WIB, rupiah melemah ke posisi Rp17.846 per dolar AS, turun 0,25 persen atau 45 poin.
Meskipun pasar domestik sedang libur, transaksi di pasar internasional tetap berjalan dan memengaruhi nilai tukar rupiah. Analis Pasar Uang Ibrahim Assuaibi menyebutkan bahwa Bank Indonesia telah melakukan intervensi pasar internasional secara maksimal, namun pengaruh faktor eksternal lebih dominan dalam menekan rupiah.
Ibrahim menjelaskan, ketegangan geopolitik di Timur Tengah, terutama aksi militer AS terhadap Iran yang memicu lonjakan harga minyak dunia, menjadi pemicu utama pelemahan rupiah. Harga minyak Brent mencapai USD97 per barel dan minyak WTI di USD91 per barel, naik sekitar 3 persen.
Selain itu, konflik Rusia-Ukraina yang kembali memanas memperburuk situasi dengan mengganggu pasokan energi di Eropa. Kenaikan harga bahan bakar ini juga menjadi tantangan bagi AS, yang dikhawatirkan akan meningkatkan inflasi dan mendorong bank sentral AS mempertahankan suku bunga tinggi bahkan berpotensi menaikkannya hingga akhir tahun.
Ekspektasi suku bunga tinggi di AS menguatkan dolar AS, sehingga melemahkan rupiah. Faktor domestik juga memperburuk sentimen pasar, terutama terkait isu manajemen Koperasi Desa Merah Putih yang berpotensi merugikan negara triliunan rupiah dan menurunkan kepercayaan investor asing.
Sebelum libur Iduladha dan cuti bersama, tercatat aliran keluar modal asing dari pasar saham Indonesia mencapai Rp1,35 triliun pada Selasa, 26 Mei 2026. Kondisi ini semakin menekan nilai tukar rupiah di tengah libur panjang.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan