Media Kampung – Harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) berhasil mencatatkan kenaikan pada perdagangan hari Senin, 18 Mei 2026, meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan dan cenderung melemah. Penutupan perdagangan menunjukkan saham BBCA naik tipis sebesar 0,41% menjadi Rp6.125 per lembar saham.

Awal perdagangan pada hari tersebut sempat menunjukkan tekanan terhadap saham BBCA dengan harga pembukaan turun ke Rp5.950, lebih rendah dari penutupan pekan sebelumnya yang ada di level Rp6.100. Namun, saham ini kemudian berhasil bangkit dan menutup sesi perdagangan di zona hijau. Data pasar mencatat adanya aksi jual saham BBCA oleh investor asing sebesar Rp91,76 miliar dengan volume mencapai 2,11 juta lembar pada sesi pertama, yang sempat menekan harga saham tersebut.

Menurut riset dari CGI International Sekuritas Indonesia, secara teknikal saham BBCA diproyeksikan akan bergerak dalam rentang support antara Rp5.933 sampai Rp6.017, dengan pivot di level Rp6.108 dan resistance di kisaran Rp6.192 hingga Rp6.283. Meskipun demikian, investor tetap disarankan untuk berhati-hati mengingat tekanan dari aksi jual asing dan kondisi pasar yang belum stabil.

Sektor perbankan secara umum mengalami tekanan pada hari yang sama. Sebagian besar saham bank besar selain BBCA justru mencatatkan koreksi cukup dalam. Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) turun 1,92% menjadi Rp3.060, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) melemah 1,81% dengan harga Rp3.800, dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) turun 1,67% di level Rp4.130. Bank-bank lain seperti PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) bahkan mengalami penurunan harga saham yang lebih signifikan.

Analisis dari RHB Sekuritas menyebutkan bahwa pelemahan saham perbankan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk potensi arus keluar modal asing menyusul rebalancing indeks MSCI dan FTSE, serta pelemahan rupiah yang mendekati Rp17.600 per dolar AS. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa Bank Indonesia akan mempertahankan sikap hawkish dengan suku bunga tinggi demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Selain itu, kenaikan harga minyak dunia dan sentimen risk-off dari investor asing turut memberikan tekanan pada sektor perbankan. Namun, analis RHB Sekuritas Andrey Wijaya memandang sektor ini masih berpeluang mengalami rebound teknikal jika tekanan rupiah dan arus dana asing mereda, mengingat valuasi saham perbankan kini mulai berada di area yang relatif menarik secara historis.

Di tengah volatilitas pasar yang terjadi, investor cenderung memilih saham bank dengan fundamental kuat, likuiditas baik, dan dividend yield menarik. Oleh karena itu, saham bank besar seperti BMRI, BBRI, dan BBCA tetap dipandang sebagai pilihan yang lebih defensif di pasar saat ini.

Di sisi nilai tukar, rupiah pada hari yang sama dibuka melemah ke level Rp17.657,5 per dolar AS. Tekanan terhadap rupiah ini diperkirakan akan terus berlanjut selama Mei 2026 akibat kombinasi kebijakan moneter AS yang ketat dan ketegangan geopolitik global. Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan rupiah berpotensi menembus level Rp18.000 dalam waktu dekat, dan jika hal ini terjadi, nilai tukar rupiah bisa melemah hingga ke kisaran Rp22.000 per dolar AS.

Bank-bank besar seperti BBCA, BRI, Bank Mandiri, dan BNI menetapkan harga jual dan beli dolar AS dengan kisaran yang relatif seragam, mencerminkan kondisi pasar valuta asing yang sedang mengalami tekanan. Hal ini menambah kompleksitas bagi pelaku pasar saham dan valuta di Indonesia dalam mengambil keputusan investasi dan transaksi.

Secara keseluruhan, saham BBCA menunjukkan performa yang relatif stabil dan berhasil bertahan di tengah tekanan pasar yang terjadi pada 18 Mei 2026. Sementara itu, pelaku pasar terus memantau perkembangan kebijakan moneter, arus dana asing, dan dinamika nilai tukar rupiah sebagai faktor kunci yang akan menentukan arah pergerakan saham perbankan ke depan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.