Media Kampung – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai bahwa valuasi saham di pasar modal Indonesia masih cukup menarik bagi para investor meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tengah mengalami tekanan akibat sentimen dari dalam dan luar negeri.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Hasan Fawzi, menyatakan bahwa kondisi penurunan ini justru bisa menjadi kesempatan bagi investor untuk melakukan pembelian secara selektif. Ia mengungkapkan bahwa rata-rata price earning ratio (PER) saham Indonesia saat ini berada pada level yang lebih rendah dibandingkan dengan periode sebelum IHSG mencapai rekor tertinggi pada Januari 2026.

Hasan menjelaskan, “Saat ini, secara perbandingan dengan bursa saham regional, rata-rata PER saham Indonesia sudah di bawah rata-rata PER bursa lainnya, yakni di angka 16 kali.” Hal ini menunjukkan bahwa harga saham di Indonesia relatif lebih murah dibandingkan dengan pasar modal negara-negara tetangga.

Dalam upaya menjaga stabilitas pasar modal, OJK bersama self-regulatory organizations (SRO) terus memantau perkembangan pasar. Langkah ini bertujuan agar perdagangan saham nasional tetap kondusif dan stabil di tengah dinamika global dan domestik yang mempengaruhi pasar.

Selain itu, OJK memastikan kebijakan stabilisasi pasar masih diterapkan, termasuk memberikan izin bagi emiten untuk melakukan buyback saham tanpa harus melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Hasan menilai kebijakan ini dapat dimanfaatkan saat valuasi PER sudah rendah seperti sekarang.

OJK juga mempertahankan kebijakan penundaan pembiayaan transaksi short selling hingga September 2026 serta tetap menerapkan mekanisme trading halt dan asymmetric auto rejection. Kebijakan-kebijakan tersebut akan terus dievaluasi sesuai kondisi pasar yang berkembang.

Dengan berbagai kebijakan dan pemantauan ketat ini, OJK berharap pasar modal Indonesia tetap menarik dan stabil sebagai salah satu pilihan investasi di tengah ketidakpastian global.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.