Media Kampung – Pemerintah memperkirakan kebutuhan investasi di sektor minyak dan gas bumi (migas) serta energi terbarukan akan mengalami peningkatan yang signifikan dalam beberapa tahun mendatang. Hal ini sejalan dengan upaya percepatan transisi energi menuju ketahanan energi nasional yang juga mencakup pengembangan teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon (CCS).
Strategi pemerintah akan berjalan secara paralel dengan tetap memanfaatkan energi fosil sambil mempercepat pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT). Dadan menekankan bahwa Indonesia akan menjaga keseimbangan antara penggunaan energi konvensional dan energi bersih agar target ketahanan energi dapat tercapai.
Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) tengah disiapkan sebagai peta jalan untuk implementasi berbagai program transisi energi lintas sektor. Proyeksi pemerintah menunjukkan bahwa pada tahun 2060, porsi energi terbarukan dalam bauran energi primer diperkirakan mencapai sekitar 70 persen, diikuti gas sebesar 20 persen, dan minyak sekitar 5 persen. Meski demikian, kebutuhan minyak dan gas masih diperkirakan tinggi selama masa transisi berlangsung.
Berdasarkan data dari International Energy Agency (IEA) dan International Renewable Energy Agency (IRENA), kebutuhan minyak Indonesia akan mencapai sekitar dua juta barel per hari pada 2030 dan masih diperkirakan sekitar satu juta barel per hari pada 2060. Kebutuhan investasi sektor energi, khususnya di hulu migas dan penerapan CCS, diprediksi meningkat secara signifikan.
Dadan menjelaskan bahwa realisasi investasi pada tahun lalu mencapai US$15 miliar dan hampir setara dengan investasi tahun 2024. Pemerintah memperkirakan nilai investasi akan terus bertambah pada tahun 2027 dan 2028. Investasi tersebut akan datang dari proyek-proyek besar seperti ENI, Masela, dan kemungkinan Andaman yang membutuhkan pendanaan besar.
Selain proyek hulu migas, pemerintah juga mendorong investasi di sektor CCS sebagai bagian dari strategi dekarbonisasi nasional. Indonesia memiliki potensi besar sebagai lokasi penyimpanan karbon regional dan telah menjalin kerja sama dengan beberapa negara seperti Singapura, Korea Selatan, dan Jepang untuk pengembangan teknologi ini. Nota kesepahaman terkait CCS telah ditandatangani sebagai bagian dari kerja sama bilateral.
Dari sisi pembiayaan, Jepang melalui Japan Bank for International Cooperation (JBIC) menyatakan komitmennya mendukung proyek energi di Indonesia. Tatsushi Amano, Senior Executive Managing Officer JBIC, menyebutkan bahwa Jepang berupaya mencapai netral karbon secara realistis dengan mendukung proyek berbasis bahan bakar fosil maupun energi terbarukan sesuai kebutuhan masing-masing negara.
ENI sebagai salah satu pelaku usaha juga menyatakan optimisme terhadap iklim usaha di Indonesia yang kondusif. Ciro Pagano, Head of Middle East and Far East Region ENI, mengatakan dukungan pemerintah dan SKK Migas memungkinkan perusahaan untuk meningkatkan investasi dalam mendukung ketahanan energi nasional.
Dengan proyeksi kebutuhan investasi yang terus meningkat dan dukungan berbagai pihak, pemerintah berupaya memastikan transisi energi berjalan beriringan dengan ketahanan energi yang memadai. Pengembangan proyek migas besar serta teknologi CCS diharapkan menjadi kunci untuk mencapai target energi nasional dalam beberapa dekade mendatang.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan