Media Kampung – Pemerintah Indonesia menargetkan pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 6,5 persen pada tahun 2027. Target ini disampaikan Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Paripurna DPR RI yang digelar di Jakarta pada 20 Mei 2026.

Dalam pidatonya, Presiden menekankan bahwa pemerintah akan mengarahkan pendapatan negara dalam APBN 2027 sebesar 11,82 hingga 12,40 persen dari produk domestik bruto (PDB). Sementara itu, belanja negara akan diatur lebih efisien dengan alokasi sekitar 13,62 hingga 14,80 persen dari PDB guna mendukung berbagai program prioritas nasional.

Prabowo juga menegaskan keyakinannya bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia akan bergerak di kisaran 5,8 hingga 6,5 persen pada 2027, dan berupaya mencapai 8 persen pada tahun 2029. Ia menambahkan bahwa pertumbuhan yang diharapkan harus tercermin secara nyata dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Selain itu, pemerintah menetapkan target peningkatan penciptaan lapangan kerja formal menjadi 40,81 persen, naik dari capaian sebelumnya yang sebesar 35 persen. Tingkat pengangguran terbuka juga diharapkan menurun menjadi 4,30 sampai 4,87 persen, lebih baik dari target sebelumnya yang berkisar antara 4,44 hingga 4,96 persen.

Presiden mendorong generasi muda Indonesia untuk berani memanfaatkan peluang di sektor informal dan menggeluti dunia kewirausahaan. Ia menganggap talenta muda Indonesia sangat potensial dan perlu didukung akses pendidikan serta pembiayaan yang memadai. Untuk itu, Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) diminta memberikan pembiayaan dengan bunga terjangkau bagi para pemuda yang ingin memulai usaha.

Pernyataan tersebut didukung oleh Menteri Ekonomi Kreatif dan Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, yang menyampaikan optimisme terhadap target pertumbuhan ekonomi nasional pada 2027. Ia menjelaskan bahwa sektor ekonomi kreatif kini menjadi salah satu sumber pertumbuhan baru dalam perekonomian Indonesia.

Sektor ini menunjukkan tren positif dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2024, kontribusi ekonomi kreatif terhadap PDB nasional mencapai Rp1.611,15 triliun atau setara 7,28 persen. Pada 2025, sektor ini terus berkembang dengan nilai ekspor mencapai USD31,94 miliar, investasi sebesar Rp183,01 triliun, serta penyerapan tenaga kerja sebanyak 27,4 juta orang.

Dengan pencapaian tersebut, pemerintah menargetkan kontribusi ekonomi kreatif terhadap PDB nasional meningkat menjadi 8,0 hingga 8,4 persen pada tahun 2029. Teuku Riefky menegaskan bahwa ekonomi kreatif telah menjadi mesin penggerak baru berbasis nilai tambah dan kekayaan intelektual yang berkontribusi signifikan terhadap PDB, ekspor, investasi, dan lapangan kerja.

Langkah pemerintah dalam mengoptimalkan ekonomi kreatif sebagai pendorong utama pertumbuhan diharapkan mampu memperkuat fondasi ekonomi nasional dan mewujudkan peningkatan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.