Media Kampung – Institute for Demographic and Affluence Studies (IDEAS) memproyeksikan potensi ekonomi kurban nasional pada tahun 2026 mencapai sekitar Rp26,89 triliun. Perkiraan ini didasarkan pada sekitar 1,90 juta rumah tangga yang berpartisipasi sebagai pekurban dengan total hewan kurban yang diperkirakan mencapai 1,59 juta ekor.

Jumlah hewan kurban tersebut terdiri dari 493.180 ekor sapi dan 1,09 juta ekor kambing atau domba. Dari total hewan tersebut, distribusi daging kurban diperkirakan mencapai sekitar 99.290 ton. Perhitungan ini menggunakan pendekatan jumlah penduduk Muslim dengan pengeluaran di atas lima kali garis kemiskinan kabupaten atau kota sebagai indikator kemampuan ekonomi untuk berkurban.

Peneliti IDEAS, Tira Mutiara, menjelaskan bahwa simulasi juga mempertimbangkan preferensi masyarakat terhadap jenis dan bobot hewan kurban, mulai dari sapi utuh, skema patungan satu per tujuh sapi, hingga kambing dan domba dengan bobot berbeda. Hal ini menggambarkan variasi pilihan pekurban sesuai kemampuan finansial masing-masing.

Meskipun potensi ekonomi kurban masih besar, angka ini menunjukkan penurunan dibandingkan proyeksi tahun 2025 yang mencapai Rp27,10 triliun. Penurunan tersebut terutama didorong oleh berkurangnya jumlah rumah tangga pekurban serta menurunnya preferensi terhadap hewan kurban berbobot besar seperti sapi.

IDEAS mencatat bahwa jumlah sapi yang akan dikurbankan diperkirakan menurun sekitar 10.170 ekor, sementara kambing dan domba turun sekitar 3.430 ekor dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini juga berdampak pada distribusi daging kurban yang diperkirakan berkurang sekitar 1.850 ton.

Tira menambahkan bahwa perubahan pola tersebut mencerminkan penyesuaian perilaku konsumsi masyarakat di tengah tekanan ekonomi nasional. Masyarakat tetap berusaha menjalankan ibadah kurban, namun lebih memilih hewan dengan harga yang lebih terjangkau. Hal ini terlihat dari meningkatnya permintaan terhadap kambing dan domba dengan bobot 20 hingga 40 kilogram.

Perubahan tersebut menjadi indikator bahwa daya beli masyarakat mulai tertekan akibat kenaikan harga pangan, biaya hidup, serta harga ternak dalam beberapa tahun terakhir. Meski begitu, ibadah kurban tetap memiliki peran sosial yang penting dengan memperluas akses konsumsi protein hewani bagi masyarakat kurang mampu.

Namun, distribusi daging kurban masih belum merata di seluruh wilayah Indonesia. Dari 514 kabupaten/kota, 163 daerah masuk kategori defisit parah dengan tingkat kecukupan distribusi di bawah 20 persen. Selain itu, terdapat 107 daerah yang sangat defisit dan 73 daerah dengan defisit sedang dengan kecukupan antara 50 hingga 80 persen.

Wilayah perkotaan di Jawa mencatat surplus daging kurban terbesar, dengan Jakarta Utara memiliki surplus sekitar 3.879 ton, disusul Depok dan Kabupaten Sleman dengan jumlah surplus yang hampir sama. Sebaliknya, Lampung Timur tercatat sebagai daerah dengan defisit tertinggi mencapai 473,60 ton dan tingkat kecukupan distribusi hanya 3,5 persen.

IDEAS menyoroti pentingnya tidak hanya meningkatkan jumlah hewan kurban, tetapi juga memperbaiki tata kelola distribusi agar lebih merata. Pendekatan seperti pemetaan daerah surplus dan defisit, pembangunan fasilitas pemotongan hewan yang standar, serta penguatan koordinasi antar lembaga diharapkan dapat membuat distribusi daging kurban lebih efektif dan tepat sasaran.

Tira menegaskan bahwa dengan pengelolaan distribusi yang lebih baik, potensi ekonomi dari ibadah kurban bisa berperan sebagai instrumen penting dalam pemerataan pangan protein sekaligus memperkuat solidaritas sosial di tingkat nasional.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.