Media Kampung – Stok Hewan Kurban Jatim melimpah dengan surplus signifikan, menjadikan provinsi siap mengekspor ke Malaysia dan Arab Saudi.
Kepala Dinas Peternakan Jatim, Indyah Aryani, menyatakan bahwa surplus sapi melebihi 600 ribu ekor, kambing 650 ribu ekor, dan domba 500 ribu ekor.
Surplus tersebut dihasilkan melalui program pembibitan intensif, perbaikan pakan, dan peningkatan manajemen peternakan selama tiga tahun terakhir.
Indyah menekankan bahwa kesehatan ternak dipantau ketat, dengan vaksinasi rutin melawan penyakit PMK dan LSD.
Peternakan baru di Desa Sukorejo, Loceret, Nganjuk, dilengkapi fasilitas karantina, ruang isolasi, serta tim veteriner berpengalaman.
“Kami memastikan semua hewan yang akan disembelih dalam kondisi bebas penyakit,” ujar Indyah sambil memeriksa kandang.
Lalu lintas ternak antar kabupaten dipantau melalui sistem GPS, mengurangi risiko penyebaran penyakit baru.
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menegaskan pentingnya memanfaatkan surplus untuk pasar internasional.
Baru-baru ini, Jatim berhasil mengekspor domba ke Malaysia dalam jumlah 5.000 ekor, menandai langkah awal ekspor hewan kurban.
Khofifah menambahkan bahwa pertemuan dengan Duta Besar Saudi Arabia menghasilkan minat kuat terhadap sapi, domba, dan unggas Jawa Timur.
“Duta Besar Saudi menyatakan ketertarikan pada kualitas ternak kami, terutama sapi dengan bobot di atas satu ton,” kata Gubernur.
Kandang Sapi Baru di Nganjuk dikenal dengan kualitas daging premium dan bobot rata-rata 1,05 ton per ekor.
Peternak lokal di Nganjuk melaporkan peningkatan pendapatan rata-rata 30 persen setelah masuk jaringan ekspor.
Ekspor ke Arab Saudi diperkirakan akan menambah devisa regional sebesar 150 miliar rupiah per tahun.
Proses logistik melibatkan pelabuhan Tanjung Perak dan bandara internasional Surabaya, dengan fasilitas cold chain terstandarisasi.
Seluruh hewan yang diekspor telah melewati sertifikasi RPH Halal, memenuhi standar internasional yang ditetapkan otoritas Saudi dan Malaysia.
Pemerintah provinsi menyediakan insentif fiskal bagi peternak yang berpartisipasi dalam skema ekspor.
Jadwal pengiriman pertama ke Arab Saudi direncanakan pada bulan Agustus 2024, dengan 2.000 ekor domba dan 500 ekor sapi.
Beberapa tantangan meliputi fluktuasi harga pakan internasional dan regulasi karantina yang ketat.
Dinas Peternakan menyiapkan cadangan vaksin dan obat untuk mengantisipasi potensi wabah selama transportasi.
Para ahli ekonomi regional memproyeksikan peningkatan nilai tambah peternakan sebesar 12 persen dalam lima tahun ke depan.
Data terbaru menunjukkan bahwa pada akhir April 2024, persediaan sapi mencapai 1,03 juta ekor, melampaui target awal 800 ribu ekor.
Indyah menegaskan, “Kita berada pada posisi yang sangat menguntungkan untuk menjawab permintaan domestik dan internasional.”
Pengawasan ketat terhadap kualitas daging menjamin penerimaan positif dari pasar Malaysia yang menuntut standar kebersihan tinggi.
Kerjasama dengan lembaga riset pertanian memperkuat program breeding berbasis genetik unggul.
Program edukasi peternak diluncurkan untuk meningkatkan pengetahuan tentang manajemen kesehatan hewan kurban.
Dalam kunjungan ke lokasi, Gubernur menilai bahwa infrastruktur peternakan telah siap mendukung volume ekspor yang lebih besar.
Dengan surplus ini, Jawa Timur berpotensi menjadi pusat hub ekspor hewan kurban di Asia Tenggara.
Kondisi terbaru menunjukkan tidak ada laporan wabah baru pada bulan April, menandakan stabilitas kesehatan ternak.
Keberhasilan Jatim diharapkan menjadi contoh bagi provinsi lain dalam mengoptimalkan potensi peternakan untuk pasar global.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan