Media Kampung – Indonesia dan Rusia memperkuat kerja sama di sektor energi, khususnya dalam pengembangan energi nuklir dan migas, sebagai bagian dari upaya meningkatkan ketahanan energi nasional. Hal ini dibahas dalam Sidang Komisi Bersama (SKB) ke-14 Indonesia-Rusia yang digelar di Kazan, Rusia, pada 12 Mei 2026.
Dalam pertemuan tersebut, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Indonesia, Yuliot Tanjung, menjelaskan bahwa kerja sama energi dengan Rusia meliputi investasi di sektor hulu minyak dan gas bumi, pengembangan kilang minyak, serta pengembangan ketenagalistrikan berbasis energi baru dan terbarukan. Salah satu fokus utama adalah rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir modular kecil (small modular reactor/SMR).
Yuliot juga menyampaikan bahwa kerja sama ini sejalan dengan prioritas pemerintah dalam memperkuat ketahanan energi nasional, termasuk pasokan bahan bakar minyak dan listrik. Pemerintah Indonesia menargetkan penambahan kapasitas pembangkit listrik nasional sebesar 70 gigawatt (GW) dalam Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, di mana 40 GW atau sekitar 62 persen berasal dari energi baru terbarukan. Untuk pembangkit listrik tenaga nuklir, pemerintah menargetkan pembangunan dua unit dengan kapasitas total 500 megawatt (MW).
Selain pembahasan migas, LNG, dan LPG, pertemuan tersebut juga membahas pengembangan energi nuklir untuk tujuan damai, termasuk pembangunan infrastruktur nuklir, pelatihan sumber daya manusia, serta pemanfaatan teknologi nuklir non-energi. Rangkaian diskusi ini menghasilkan Agreed Minutes sebagai tindak lanjut resmi dari kerja sama kedua negara di bidang energi dan sumber daya mineral.
Presiden Indonesia Prabowo Subianto juga melakukan pertemuan dengan Direktur Jenderal Rosatom, Alexey Likhachev, di Jakarta pada 12 Mei 2026. Rosatom, perusahaan energi nuklir terbesar di Rusia, menawarkan pendekatan komprehensif mulai dari pembangunan PLTN skala besar, pengembangan SMR, hingga pembangkit listrik terapung. Rosatom menekankan pentingnya kemitraan jangka panjang yang mencakup transfer teknologi dan pembangunan kapasitas industri nasional Indonesia.
Alexey Likhachev menyatakan bahwa Indonesia memiliki target ambisius dalam pengembangan energi nuklir dan membutuhkan kemitraan strategis yang mendukung pembangunan industri baru, pelatihan tenaga kerja nasional, dan penguatan kedaulatan teknologi. Kunjungan Rosatom juga termasuk pertemuan dengan sejumlah pejabat penting Indonesia, seperti Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, pimpinan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Direktur Utama PT PLN (Persero).
Kerja sama ini menandai dua dekade hubungan bilateral Indonesia-Rusia dalam pemanfaatan energi atom untuk tujuan damai sejak perjanjian yang diteken pada 1 Desember 2006. Pemerintah Indonesia melihat pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir modular kecil sebagai bagian penting dalam memperkuat sistem ketahanan energi nasional di masa depan.
Dengan langkah ini, Indonesia berupaya memperluas sumber energi yang ramah lingkungan dan diversifikasi energi nasional, sekaligus mempersiapkan infrastruktur dan sumber daya manusia yang memadai untuk mengoperasikan teknologi nuklir. Kerja sama dengan Rusia diharapkan dapat mendorong percepatan implementasi program energi bersih dan mendukung target transisi energi nasional.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan