Media Kampung – 18 April 2026 | Ansor menekankan pentingnya pemulihan ekonomi pascabanjir Aceh Timur dengan prioritas utama pada sektor pertanian.
Banjir bandang yang melanda wilayah Bireuen, Pidie Jaya, dan Lhokseumawe pada 12‑13 September 2023 mengakibatkan kerusakan luas pada lahan pertanian.
Akibatnya, pendapatan petani turun hingga 60 persen, menimbulkan kesulitan mencukupi kebutuhan hidup keluarga.
Dalam konferensi pers di Banda Aceh, juru bicara Ansor, KH. Ahmad Yusuf, menyatakan, “Kami menuntut aksi cepat untuk mengembalikan produktivitas lahan dan kesejahteraan petani yang terdampak”.
Ansor mengusulkan paket bantuan berupa bibit unggul, pupuk bersubsidi, serta modal kerja mikro bagi petani yang kehilangan hasil panen.
Pemerintah Provinsi Aceh melalui Dinas Pertanian menandatangani nota kesepahaman dengan Ansor pada 20 September 2023 untuk menyelaraskan distribusi bantuan.
Data resmi menunjukkan bahwa 1.850 keluarga petani mengalami kerugian total sekitar Rp 45 miliar.
Seorang petani di Kecamatan Lhoong, Bireuen, mengungkapkan, “Tanah kami masih basah dan tidak dapat ditanami, bantuan bibit sangat kami nantikan”.
Distribusi bibit padi, jagung, dan sayuran direncanakan dimulai pada awal Oktober melalui posko-posko pertanian di tiap kecamatan.
Selain itu, Ansor bekerja sama dengan lembaga pelatihan lokal untuk memberikan workshop teknik pertanian tahan banjir.
Pendanaan program diperkirakan mencapai Rp 70 miliar, berasal dari dana CSR Ansor, alokasi APBN, dan sumbangan dermawan.
Implementasi fase pertama, yaitu pengadaan dan distribusi bibit, dijadwalkan selesai dalam 45 hari sejak penetapan.
Organisasi non‑pemerintah seperti Yayasan Lestari Bumi juga turut berkontribusi dalam penyediaan peralatan irigasi darurat.
Target jangka pendek adalah mengembalikan 70 persen luas lahan yang terkena banjir ke kondisi produktif pada musim tanam berikutnya.
Sejarah menunjukkan bahwa Aceh Timur pernah mengalami banjir serupa pada tahun 2017, yang memakan waktu lebih lama untuk pulih karena keterbatasan koordinasi.
Pemerintah daerah kini mengintegrasikan sistem peringatan dini berbasis teknologi satelit untuk mengurangi risiko di masa depan.
Logistik bantuan menghadapi tantangan akses jalan rusak, sehingga tim operasional menggunakan kendaraan off‑road dan helikopter untuk mencapai daerah terpencil.
Setiap minggu, tim monitoring Ansor bersama Dinas Pertanian melakukan evaluasi lapangan untuk memastikan bantuan tepat sasaran.
Per 5 Oktober 2023, lebih dari 1.200 keluarga telah menerima paket bantuan pertama, dan proses penanaman diperkirakan akan dimulai minggu depan.
Dengan sinergi antara Ansor, pemerintah, dan lembaga swadaya, diharapkan ekonomi petani Aceh Timur dapat bangkit kembali secara berkelanjutan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan