Media Kampung – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus melemah dan telah menembus level Rp 18.015 per dolar AS pada perdagangan Kamis (4/6) pagi. Posisi ini menjadi salah satu level terlemah rupiah dalam beberapa waktu terakhir.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pelemahan rupiah mencerminkan kuatnya tekanan eksternal di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Sentimen domestik yang masih kurang kondusif turut memperburuk pergerakan rupiah.
“Rupiah diperkirakan akan melemah terhadap dolar AS yang menguat di tengah tensi geopolitik yang meningkat di Timur Tengah,” ujar Lukman. Selain itu, sejumlah data ekonomi AS yang dirilis lebih baik dari perkiraan pasar turut memperkuat dolar AS.
Data ketenagakerjaan AS serta indeks aktivitas sektor jasa Institute for Supply Management (ISM) yang menunjukkan kinerja lebih kuat dari ekspektasi memperbesar optimisme terhadap ekonomi AS. Kombinasi faktor ini meningkatkan permintaan dolar AS dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Dari dalam negeri, sentimen pasar dinilai belum cukup kuat untuk menopang rupiah. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan kesiapan meningkatkan koordinasi Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) untuk menstabilkan nilai tukar. Namun, ia menghormati langkah intervensi Bank Indonesia sebagai otoritas utama.
“Itu kan yurisdiksi bank sentral untuk menjaga nilai tukar. Itu biar mereka jalan dulu. Kami lakukan rapat berkala secara normal saja. Tapi, kalau kami melihat ada koordinasi yang bisa ditingkatkan sehingga memperbaiki nilai tukar, kami akan lakukan,” kata Purbaya kepada wartawan di Kompleks Parlemen Jakarta, Rabu (3/6).
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan