Media Kampung – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang terus berlanjut menjadi sorotan utama. Ekonom senior Wijayanto Samirin mengingatkan pemerintah untuk tidak mengabaikan situasi ini dan belajar dari pengalaman krisis moneter 1998 agar tekanan ekonomi tidak semakin parah.

Rupiah sempat menyentuh angka terlemah sepanjang sejarah pada kisaran Rp17.670 per dolar AS, yang dipicu oleh tekanan global, termasuk lonjakan harga minyak dunia dan arus modal asing keluar dari pasar Indonesia. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran berlebih di kalangan pelaku usaha dan masyarakat karena berpotensi menaikkan harga barang kebutuhan pokok.

Menurut Wijayanto, situasi saat ini memiliki kemiripan dengan krisis 1998, terutama dari segi sikap denial atau penyangkalan dan complacency atau rasa puas diri yang berbahaya. “Salah satu masalah terbesar adalah ketika pemerintah merasa kondisi ekonomi masih baik-baik saja, padahal tekanan sudah mulai terlihat,” ujarnya dalam diskusi di Jakarta pada 23 Mei 2026.

Dia menekankan pentingnya pengakuan atas kondisi ekonomi yang sebenarnya agar solusi tepat dapat diambil. Sebagai perumpamaan, nilai tukar rupiah diibaratkan seperti suhu tubuh; jika kurs bergejolak dan melemah, itu menunjukkan kondisi ekonomi sedang tidak sehat.

Pemerintah dan otoritas moneter selama ini telah mengambil langkah seperti menaikkan suku bunga acuan Bank Indonesia, menerbitkan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), dan membentuk Bond Stability Fund (BSF) untuk meredam pelemahan rupiah. Namun, menurut Wijayanto, kebijakan tersebut lebih banyak mengatasi gejala sementara dan belum menyasar akar permasalahan ekonomi.

Pelemahan rupiah tidak lepas dari kondisi global yang memburuk, seperti ketegangan geopolitik yang menyebabkan harga minyak Brent bertahan di sekitar 110 dolar AS per barel, sehingga Indonesia sebagai pengimpor minyak harus mengeluarkan lebih banyak dolar AS. Tekanan ini diperparah dengan arus modal asing yang keluar hingga miliaran dolar, serta penghapusan saham Indonesia dari indeks MSCI yang memicu aksi jual besar-besaran.

Bank Indonesia menghadapi dilema antara menaikkan suku bunga untuk menjaga stabilitas rupiah dan menjaga pertumbuhan ekonomi yang masih rentan. Jika suku bunga terlalu tinggi, konsumsi masyarakat bisa melemah sehingga pertumbuhan ekonomi melambat, namun menjaga suku bunga rendah membuat rupiah terus tertekan karena dana asing enggan masuk.

Wijayanto mendesak pemerintah untuk mendengarkan saran para ekonom dan lembaga internasional agar kebijakan yang diambil lebih tepat sasaran dan berkelanjutan. Menurutnya, menutup mata terhadap pelemahan rupiah hanya akan memperburuk situasi dan mengulangi kesalahan masa lalu.

Saat ini, ruang gerak pemerintah untuk memitigasi tekanan ekonomi semakin sempit. Oleh sebab itu, kesadaran dan respons cepat terhadap kondisi rupiah menjadi kunci agar Indonesia dapat keluar dari tekanan tanpa harus jatuh ke krisis yang lebih dalam.

Dengan kondisi global yang masih tidak pasti, serta tantangan internal yang harus dihadapi, pemerintah diharapkan mengambil langkah nyata yang tidak hanya meredam gejala, tetapi juga menyelesaikan permasalahan fundamental demi stabilitas ekonomi jangka panjang.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.