Media KampungLiterasi keuangan digital menjadi semakin penting bagi anak muda di era teknologi saat ini, terutama di kota Yogyakarta yang berkembang sebagai pusat ekonomi kreatif dan digital. Dalam acara Jogja Financial Festival 2026 di Jogja Expo Center, berbagai tokoh penting menyoroti kebutuhan mendesak untuk meningkatkan pemahaman generasi muda terhadap pengelolaan keuangan digital dan risiko yang menyertainya.

Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. dr. Ova Emilia, Ph.D., mengingatkan bahwa kemajuan teknologi membawa kemudahan sekaligus risiko yang harus dipahami agar masyarakat tidak mudah terjebak dalam masalah keuangan. Ia menegaskan bahwa penguatan literasi keuangan digital menjadi sangat krusial, apalagi melihat banyak kasus mahasiswa yang mengalami kesulitan finansial. UGM sebagai perguruan tinggi terbesar di Yogyakarta berperan aktif dalam membekali mahasiswa dengan kemampuan menjadi investor, wirausaha, dan inovator, sekaligus mengelola risiko keuangan secara bijak.

Selain itu, Ova menyampaikan pentingnya pengembangan kapasitas talenta muda di tengah bonus demografi yang sedang berlangsung. UGM terus mengadakan seminar, workshop, dan berbagai program literasi keuangan yang melibatkan mahasiswa, tenaga kependidikan, dan dosen. Program beasiswa seperti Sahabat UGM juga memperluas akses pendidikan, dengan ribuan mahasiswa menerima subsidi beasiswa yang membantu meringankan beban finansial mereka.

Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Prof. Anggito Abimanyu, turut mengapresiasi kolaborasi antara pemerintah DIY, UGM, dan mitra lain yang menyelenggarakan festival tersebut. Ia menekankan bahwa kemajuan teknologi finansial harus diimbangi dengan literasi, etika, dan tanggung jawab masyarakat agar pengelolaan keuangan digital berjalan sehat dan berkelanjutan. Menurut Anggito, generasi muda saat ini memiliki akses besar ke layanan keuangan digital, tetapi masih perlu penguatan kapasitas dalam merancang keuangan secara matang.

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X, menggarisbawahi pentingnya membangun literasi keuangan yang tidak hanya fokus pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kemanusiaan dan budaya. Ia menyambut baik Jogja Financial Festival sebagai wadah yang menyatukan kebijakan, ilmu pengetahuan, budaya, dan teknologi demi menjaga martabat manusia dalam pembangunan ekonomi. Filosofi Jawa “gemi nastiti ati-ati” yang mengajarkan kehati-hatian dan pengendalian diri diaplikasikan sebagai prinsip dalam berkeuangan, terutama menghadapi tren konsumsi cepat dan skema beli sekarang bayar nanti yang berisiko.

Sri Sultan juga menyoroti urgensi literasi keuangan yang merata di seluruh lapisan masyarakat agar terhindar dari praktik pinjaman online ilegal dan kejahatan keuangan lainnya. Festival ini menjadi momentum strategis untuk mendorong inklusi keuangan yang produktif dan beretika, sekaligus menjadikan generasi muda sebagai motor penggerak transformasi ekonomi Indonesia.

Jogja Financial Festival 2026 yang diselenggarakan oleh Transmedia Group bersama sejumlah lembaga regulator keuangan nasional, seperti Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, dan LPS, berlangsung selama dua hari dengan format talkshow, pameran, dan kelas edukasi. Acara ini bertujuan memperluas jangkauan literasi dan inklusi keuangan secara efektif dan inklusif kepada masyarakat luas, khususnya generasi muda di Yogyakarta.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.