Media Kampung – Jakarta – Pelemahan nilai tukar rupiah yang terus berlanjut memicu kekhawatiran Komisi IV DPR RI terhadap stabilitas harga pangan nasional. Anggota Komisi IV DPR RI, Rina Saadah, meminta pemerintah mewaspadai dampak lonjakan kurs dolar AS terhadap sektor pangan. Ia menekankan pentingnya analisis objektif dengan membandingkan pergerakan mata uang negara tetangga di ASEAN.
“Yang perlu kita lihat bukan hanya angka kurs rupiah terhadap dolar AS, tetapi juga bagaimana posisi Indonesia dibandingkan negara-negara tetangga. Jika pelemahan mata uang terjadi hampir merata di kawasan, maka tekanan tersebut lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal,” ujar Rina dalam keterangan persnya di Jakarta, Kamis, 4 Juni 2026.
Menurut Rina, depresiasi rupiah berpotensi melambungkan biaya impor bahan baku strategis seperti kedelai, gandum, garam industri, dan bahan baku pakan ternak. Kenaikan biaya impor tersebut dipastikan akan memberatkan pelaku usaha di tingkat bawah, termasuk petani, peternak, dan nelayan, akibat membengkaknya biaya produksi. Efek domino dari mahalnya bahan baku impor ini langsung memukul daya saing mereka.
“Yang menjadi perhatian kami bukan sekadar pergerakan kurs, melainkan dampaknya terhadap biaya produksi dan ketahanan pangan nasional. Jika biaya impor meningkat, maka tekanan terhadap harga pangan dan biaya produksi petani, peternak, nelayan, serta pelaku usaha perikanan juga akan semakin besar,” tegas Rina.
Komisi IV DPR mendorong pemerintah untuk mempercepat swasembada pangan guna memutus ketergantungan terhadap pasar luar negeri. Langkah konkret yang disarankan meliputi penguatan industri pakan lokal, pengembangan benih unggul nasional, serta penyaluran subsidi yang tepat sasaran. “Tingginya angka impor membuat kedaulatan ekonomi bangsa menjadi rapuh dan mudah digoyang oleh dinamika global. Sinergi ketat antara pemerintah pusat dan daerah mutlak diperlukan demi membentengi daya beli masyarakat sekaligus menjaga pasokan pangan tetap aman,” ujar Rina.
Pada pembukaan perdagangan Kamis, 4 Juni 2026, nilai tukar rupiah menembus level Rp18.000 per dolar AS. Menurut Bloomberg, rupiah terpantau turun 0,32 persen atau 57 poin menjadi Rp18.023 per dolar AS. Analis pasar uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyatakan bahwa pelemahan rupiah sudah diprediksi dan diperkirakan akan berlanjut. Penguatan dolar AS dipicu oleh meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah, dengan indeks dolar AS bergerak pada rentang 99,44-99,52 atau menguat 0,30 persen.
“Rupiah diperkirakan akan terus melemah terhadap dolar AS,” kata Lukman. Ia menambahkan bahwa sentimen terhadap rupiah masih buruk, sehingga mata uang Garuda kembali mendekati level psikologi baru. Bank Indonesia (BI) kemungkinan akan melakukan intervensi secara agresif. Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak pada rentang Rp17.950-Rp18.100 per dolar AS.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan