Media KampungKeluarga almarhum Suhardi (65) di Kabupaten Demak, Jawa Tengah, memberikan klarifikasi terkait kabar yang menyebut jenazahnya bergerak dan bernapas saat hendak dimandikan. Anak kedua almarhum, Setiawan (29), menjelaskan bahwa ayahnya sebenarnya dalam kondisi koma sebelum meninggal dunia.

Peristiwa bermula pada Selasa (26) pagi, saat Suhardi menolak makan dan minum seperti biasanya. Setiawan mengetahui hal itu sebelum berangkat kerja. “Saya kurang tahu apakah bapak sudah terasa atau bagaimana. Tetapi pada Selasa pagi itu beliau tidak mau makan dan minum seperti biasanya,” ujarnya, Kamis (4/6).

Pukul 16.00 WIB, Suhardi dikabarkan meninggal. Saat hendak dimandikan di halaman depan rumah, muncul keringat di tubuh jenazah, sehingga keluarga memutuskan untuk membawanya kembali ke dalam rumah. Bidan setempat kemudian memeriksa kondisi almarhum dan mendapati kedua matanya masih terpejam.

Setiawan pulang kerja pukul 19.00 WIB dan memeriksa tangan ayahnya. “Saya pulang kerja langsung pegang kedua tangan ayah saya. Saya cek sebelah kanan dan kiri tangan ayah saya masih terasa lemas,” jelasnya. Saat itu, bidan juga memeriksa menggunakan alat saturasi oksigen yang menunjukkan angka naik turun. “Kata bidannya ayah saya masih koma. Tetapi kami memang diminta ke rumah sakit kalau mau mendiagnosis secara valid,” ujarnya.

Pukul 20.00 WIB, beberapa anggota keluarga datang dan berdiskusi. Hingga sekitar pukul 21.00 WIB, kedua tangan Suhardi sudah kaku dan tidak bisa ditekuk. Setiawan menambahkan bahwa posisi ayahnya saat wafat terlihat sambil tersenyum, dan pihak keluarga telah mengikhlaskan kepergiannya. Rabu (3/6) pukul 09.00 WIB, Suhardi dimakamkan di tempat pemakaman setempat. “Kami sekeluarga sudah mengikhlaskan. Semoga ayah tenang di sana,” tutup Setiawan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.