Media Kampung, Kutai Kartanegara – Program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR) berhasil merehabilitasi ekosistem mangrove seluas 6.120 hektare di Kalimantan Timur selama periode 2024 hingga 2026. Salah satu lokasi utama pelaksanaan program ini berada di Desa Sepatin, Kecamatan Anggana, Kabupaten Kutai Kartanegara, yang menjadi fokus pemulihan ekosistem mangrove melalui pendekatan pemberdayaan masyarakat.
Program M4CR merupakan bagian dari upaya nasional yang menargetkan rehabilitasi mangrove seluas 32.634 hektare hingga tahun 2027 di empat provinsi prioritas, yaitu Riau, Sumatera Utara, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara. Program ini dikelola oleh Kementerian Kehutanan melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan (PDASRH), bersama kementerian terkait, pemerintah daerah, Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH), serta didukung pendanaan dari World Bank.
Rehabilitasi Mangrove di Kalimantan Timur
Pada tahun 2024, rehabilitasi mangrove di Kalimantan Timur mencakup area seluas 4.445 hektare, dilanjutkan 499 hektare pada 2025, dan 1.176 hektare pada 2026. Di Desa Sepatin, program memadukan konservasi dengan kegiatan ekonomi masyarakat melalui pengelolaan kawasan pesisir dan tambak berbasis silvofishery, yang mengintegrasikan budidaya mangrove dengan perikanan tambak.
Pemberdayaan Masyarakat dan Kelompok Tani Hutan
Keberhasilan M4CR sangat bergantung pada partisipasi aktif masyarakat, khususnya Kelompok Tani Hutan (KTH) yang mengelola kawasan mangrove. Di Desa Sepatin terdapat tiga KTH yang menjadi contoh pelaksanaan program:
- KTH Gemilang Sejahtera Abadi mengelola 80 hektare dengan tingkat keberhasilan tumbuh mangrove mencapai 80 persen.
- KTH Mangrove Borneo mengelola 254 hektare dengan tingkat keberhasilan tumbuh 69 persen.
- KTH Peduli Hutan Mangrove mengelola 60 hektare dengan tingkat keberhasilan tumbuh 61 persen pada penanaman tahun 2025.
Tantangan dan Strategi Keberlanjutan
Meskipun hasil program menunjukkan perkembangan positif, sejumlah tantangan masih dihadapi, antara lain:
- Rendahnya pemahaman sebagian masyarakat mengenai fungsi ekologis mangrove.
- Potensi konflik antara aktivitas budidaya tambak dan konservasi mangrove.
- Keterbatasan anggaran dan sumber daya manusia untuk pemeliharaan jangka panjang.
Untuk mengatasi hal tersebut, fokus ke depan adalah meningkatkan keberhasilan pemulihan ekosistem, memperkuat edukasi dan partisipasi masyarakat, serta memperluas kemitraan guna mendukung pendanaan dan pengembangan ekonomi berbasis mangrove.
Manager Unit Pelaksana Proyek Tingkat Provinsi Kalimantan Timur (PPIU – Kaltim) M4CR, Asman Azis, menegaskan pentingnya sinergi antara masyarakat, pemerintah, dan lembaga mitra agar tingkat keberhasilan tumbuh mangrove yang saat ini berkisar antara 61 hingga 80 persen dapat terus meningkat. Hal ini diharapkan mampu menjaga kelestarian ekosistem sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir di Desa Sepatin.















Tinggalkan Balasan