Media Kampung – Universitas Gadjah Mada (UGM) meluncurkan pengembangan teknologi agrivoltaic smart farming di Kalurahan Pandowoharjo, Sleman, sebagai langkah nyata menuju terwujudnya desa mandiri hijau. Inisiatif ini menggabungkan sistem energi surya dengan pertanian cerdas guna mendukung keberlanjutan dan pemberdayaan masyarakat setempat.
Proyek yang dijalankan bersama Solar Research Institute (SRI) dari Universiti Teknologi MARA Malaysia itu menitikberatkan pada penerapan teknologi hybrid agro-voltaic yang berkelanjutan. Kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) hybrid yang dipasang mencapai 2,6 kWp, disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan irigasi otomatis dan mendukung mesin hilirisasi produk desa.
Seluruh proses perakitan prototipe dilakukan di Laboratorium Energi Terbarukan Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika UGM, dengan melibatkan langsung perwakilan warga guna memastikan transfer pengetahuan berlangsung efektif. Ahmad Agus Setiawan, Ph.D., ketua tim pengembang, menjelaskan bahwa sistem ini akan dilengkapi dengan kamera pengawas berbasis internet yang dioperasikan oleh kalurahan, serta integrasi sensor RiTx untuk memantau kondisi tanah dan cuaca secara real-time.
Dalam rangka meningkatkan efisiensi pemeliharaan, pelatihan deteksi anomali menggunakan kecerdasan buatan (AI) juga diberikan kepada masyarakat agar biaya perawatan dapat diminimalisir. Agus menambahkan, “Kami berupaya agar sistem yang dibangun ini dapat berjalan secara mandiri dan berkelanjutan di tingkat desa.”
Tim riset ini terdiri dari para ahli UGM, termasuk Prof. Bayu Dwi Apri Nugroho, Ph.D., pakar teknologi pertanian dari Fakultas Teknologi Pertanian yang juga memiliki peran sebagai tenaga ahli di BAPPENAS. Bayu menekankan pentingnya integrasi data iklim untuk mengoptimalkan mikroklimat, sehingga panel surya tidak hanya menghasilkan listrik, tetapi juga menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan tanaman hortikultura di bawahnya.
Kerja sama internasional ini diperkuat melalui kunjungan tim UGM ke Malaysia pada awal Mei lalu. Rombongan mengunjungi fasilitas Large Solar Scale Park milik UiTM di Pahang serta Universiti Putra Malaysia (UPM) untuk mempelajari pengelolaan sistem surya skala besar dan potensi integrasi panel surya dengan sektor peternakan dan tanaman pangan. Direktur SRI UiTM, Prof. Nofri Yenita Dahlan, mengingatkan pentingnya perencanaan matang melalui simulasi energy yield dan analisis shading agar produktivitas tanaman tetap optimal.
Partisipasi aktif berbagai unsur masyarakat juga menjadi fokus dalam pelaksanaan program ini, termasuk Kelompok Wanita Tani (KWT), Pemerintah Kalurahan, BUMKal Amarta, hingga aparat keamanan seperti Babinsa dan Babinkamtibmas. Komitmen dari pihak kalurahan terlihat dari kesiapan menyediakan personel untuk merakit, mengoperasikan, dan merawat alat setelah instalasi selesai.
Dengan pendekatan ini, UGM berharap teknologi agrivoltaic smart farming dapat menjadi model penerapan energi terbarukan sekaligus pemberdayaan ekonomi di desa, memberikan manfaat langsung kepada petani serta memperkuat ketahanan dan kemandirian desa Pandowoharjo. Proyek ini juga diharapkan mampu menginspirasi pengembangan desa mandiri hijau di wilayah lain di Indonesia.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan