Berthold Damshuser, Suara Rilke dalam Bahasa Indonesia: Membawa Keindahan Sastra Jerman ke Tanah Air

Media Kampung – Berthold Damshuser, sosok yang akrab disapa Pak Trum, kembali menghadirkan keajaiban sastra Jerman melalui acara bertajuk Berthold Damshuser, Suara Rilke dalam Bahasa Indonesia yang digelar di Auditorium Ki Nartosabdo, Jaya Suprana Institute (JSI), Kelapa Gading, Jakarta Utara, Minggu (31/5/2026). Dalam kesempatan berharga ini, ia membacakan puisi-puisi karya Rainer Maria Rilke, salah satu penyair terbesar dunia, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Der Panther: Awal Perjalanan Cinta Berthold Damshuser pada Rilke

Acara dimulai dengan pembacaan puisi Der Panther atau yang dikenal sebagai Macan Kumbang, puisi pertama yang memperkenalkan Berthold Damshuser pada karya Rilke di masa mudanya. Ia membawakan dengan penuh penghayatan, menggambarkan tatapan lelah sang macan yang terkurung, serta keindahan dan kedalaman makna yang tersirat.

“Tatapannya lelah melintasi jeruji demi jeruji hingga pandangannya tiada lagi. Seakan jeruji berjumlah selaksa dan di seberangnya dunia tak ada,” ungkap Trum membacakan puisi tersebut dengan penuh emosi. Puisi ini menjadi simbol awal kecintaannya terhadap Rilke yang terus membara hingga kini.

Menerjemahkan Puisi Rilke: Kolaborasi Antara Akademisi dan Penyair

Berthold Damshuser tidak hanya dikenal sebagai akademisi dan pengajar bahasa Jerman, tetapi juga penerjemah aktif yang membawa karya-karya sastra dunia ke dalam bahasa Indonesia. Bersama penyair Indonesia Agus R. Sarjono, ia menerjemahkan puisi-puisi Rilke dan menerbitkannya dalam buku dwibahasa berjudul Kedalaman Terarah Padamu.

Dalam proses penerjemahan, Trum menekankan pentingnya tidak hanya menerjemahkan isi semantik sebuah puisi, tetapi juga mempertahankan keindahan dan musikalitasnya. “Puisi itu sebenarnya juga sejenis musik dan bisa kita apresiasi seolah itu musik,” katanya. Oleh karena itu, ia melibatkan Agus R. Sarjono sebagai seniman bahasa yang mampu menemukan kata-kata sesuai dengan metrum dan irama puisi asli.

Seri Puisi Jerman: Memperkenalkan Sastra Jerman ke Pembaca Indonesia

Selain Rilke, Berthold Damshuser juga turut memperkenalkan karya penyair besar Jerman lainnya melalui seri puisi Jerman yang disusunnya bersama Agus R. Sarjono. Seri ini memuat karya-karya Johann Wolfgang von Goethe, Bertolt Brecht, Paul Celan, Hans Magnus Enzensberger, Friedrich Nietzsche, hingga Georg Trakl.

“Diterbitkan dalam rangka seri puisi Jerman yang saya edit bersama sahabat saya Agus R. Sarjono,” ungkap Trum. Melalui upaya ini, ia berharap pembaca Indonesia dapat menikmati kekayaan sastra Jerman dengan kemasan bahasa yang indah dan puitis.

Rilke: Raksasa Puisi Dunia dengan Pengaruh Global

Bagi Berthold Damshuser, Rainer Maria Rilke bukan sekadar penyair besar dalam tradisi sastra Jerman, melainkan figur sastra dunia yang pengaruhnya meluas hingga ke ranah internasional. “Rilke itu benar-benar raksasa puisi, bukan saja untuk wilayah bahasa Jerman tapi secara internasional,” ujarnya.

Karya Rilke tetap relevan dibaca karena mengangkat tema universal seperti cinta, kesepian, kematian, dan pencarian spiritual. Bahkan, Trum mengisahkan bahwa penyanyi pop dunia Lady Gaga memiliki tato dengan kutipan puisi Rilke, menandakan pengaruh penyair ini juga merambah budaya populer.

Puisi sebagai Musik yang Harus Didengarkan

Dalam acara pembacaan puisi tersebut, Berthold Damshuser berulang kali menegaskan bahwa puisi tidak hanya perlu dibaca untuk mencari makna, tetapi juga harus didengarkan sebagai sebuah musik. Pembacaan puisi yang baik harus memperhatikan irama, metro, dan bunyi, agar keindahan puisi dapat tersampaikan secara utuh.

“Kalau isi itu kan dibungkus si penyair dalam sebuah bentuk keindahan. Kalau dia cuma mau menyampaikan isi aja ya dia tulis dalam bahasa prosa yang biasa,” jelas Trum. Pendekatan ini menjadi kunci dalam proses penerjemahan puisi-puisi Rilke agar tetap mempertahankan keindahan asli dalam versi bahasa Indonesia.

Motivasi Memperkenalkan Rilke ke Masyarakat Indonesia

Berthold Damshuser mengungkapkan bahwa perhatian masyarakat Indonesia terhadap karya Rilke telah ada sejak lama. Bahkan Chairil Anwar pernah menerjemahkan beberapa puisi Rilke, meskipun belum ada buku yang secara khusus menghimpun karya-karya tersebut dalam bahasa Indonesia.

“Dalam rangka seri puisi Jerman, saya sebagai koeditor bersama Agus R. Sarjono memilih Rilke untuk mengisi satu volume, ya satu buku dari seri puisi Jerman,” kata Trum. Upaya ini bertujuan untuk memperkenalkan dan memudahkan akses pembaca Indonesia terhadap karya sastra dunia yang kaya makna dan keindahan.

Menjadi Jembatan Budaya Lewat Puisi

Berthold Damshuser, Suara Rilke dalam Bahasa Indonesia bukan sekadar acara pembacaan puisi biasa, melainkan sebuah jembatan budaya yang menghubungkan sastra Jerman dengan masyarakat Indonesia. Melalui dedikasi dan kolaborasi dengan penyair lokal, karya Rilke yang mendalam kini dapat dinikmati dalam bahasa yang lebih akrab dan indah.

Dengan mempertahankan isi, keindahan, dan musikalitas puisi, Berthold Damshuser berhasil menghidupkan suara Rilke di tanah air, memberikan ruang bagi pembaca dan penikmat sastra Indonesia untuk merasakan kedalaman dan keunikan puisi yang abadi ini.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.