Media KampungHarga telur ayam yang anjlok dalam beberapa minggu terakhir menjadi perhatian serius bagi para peternak ayam petelur di berbagai daerah Indonesia. Kondisi ini menyebabkan tekanan besar terhadap kelangsungan usaha mereka, yang sebagian besar merupakan pelaku UMKM keluarga.

Sarifah Suraidah Harum, anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, menyatakan keprihatinannya atas jatuhnya harga telur yang bahkan berada di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) pemerintah sebesar Rp 26.500 per kilogram. Pada awal Mei 2026, harga telur sempat menyentuh level terendah Rp 20.400 per kilogram di tingkat peternak dan hingga pertengahan Mei masih berkisar antara Rp 22.000 hingga Rp 22.800 per kilogram.

Untuk mendukung upaya stabilisasi harga dan penyerapan stok telur lokal, Sarifah mengusulkan agar Kemendag menjalin kerja sama strategis dengan Badan Gizi Nasional (BGN). Kolaborasi ini diharapkan dapat mengoptimalkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan memprioritaskan penggunaan telur dari peternak lokal. Hal ini sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem perunggasan nasional dari hulu hingga hilir.

“Kami meminta Kemendag segera berkoordinasi intens dengan BGN untuk mengarahkan program MBG agar fokus pada stok telur lokal,” ujar Sarifah. Ia juga menegaskan bahwa menyelamatkan sektor perunggasan bukan hanya soal kestabilan harga, tetapi juga melindungi mata pencaharian jutaan peternak di daerah.

Selain itu, Kementerian Pertanian (Kementan) turut memperkuat langkah stabilisasi harga telur dengan melakukan koordinasi bersama pemerintah daerah dan asosiasi peternak. Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Agung Suganda, menyampaikan bahwa pemerintah memahami tekanan fluktuasi harga yang dihadapi peternak ayam petelur rakyat dan berkomitmen menjaga kelangsungan usaha mereka.

Upaya Kementan meliputi penguatan serapan pasar, distribusi antardaerah, dan hilirisasi produk peternakan agar pasar semakin luas dan harga di tingkat peternak tetap terjaga. Langkah ini penting untuk menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan telur nasional.

Harga telur yang stabil sangat krusial untuk ketahanan pangan nasional sekaligus menjadi tumpuan ekonomi keluarga peternak kecil. Dengan kolaborasi lintas kementerian dan lembaga, diharapkan kondisi pasar telur dapat lebih terkelola sehingga peternak tidak lagi mengalami kerugian akibat harga yang terus menurun.

Perkembangan terakhir menunjukkan dorongan dari DPR dan instansi terkait agar Kemendag mengambil tindakan nyata bersama BGN demi menyelamatkan sektor perunggasan dari tekanan harga yang merugikan. Masyarakat dan peternak pun berharap langkah konkret segera direalisasikan untuk menjaga keberlanjutan bisnis dan ketahanan pangan nasional.

Dengan demikian, kolaborasi antar lembaga pemerintah menjadi kunci dalam mengatasi permasalahan harga telur yang anjlok, sekaligus memberikan perlindungan bagi jutaan peternak yang mengandalkan usaha ini sebagai sumber penghidupan utama.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.