Media Kampung, Magetan — Menjelang dimulainya tahun ajaran 2026/2027, sembilan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Magetan belum dapat beroperasi. Namun, Satuan Tugas (Satgas) Makan Bergizi Gratis (MBG) memastikan 61 dari total 70 dapur sudah siap melayani siswa mulai Senin, 13 Juli 2026.
Petugas Satgas MBG Magetan, Awang Arifaini Rudin, mengatakan sembilan SPPG masih menyelesaikan tahapan sebelum memperoleh izin operasional dari Badan Gizi Nasional (BGN). “Dari total 70 SPPG, sebanyak 61 sudah siap beroperasi saat hari pertama sekolah. Sembilan lainnya masih dalam proses penyelesaian dan kami targetkan bisa menyusul dalam dua hingga tiga hari ke depan,” ujarnya Jumat (10/7/2026).
Empat dari sembilan dapur tersebut sebelumnya dikenai status suspensi. Kini pengelolanya mengajukan pencabutan status setelah melakukan pembenahan yang diminta. Lima dapur lainnya merupakan unit baru yang masih melengkapi persyaratan teknis.
Masa libur sekolah dimanfaatkan pengelola SPPG untuk evaluasi fasilitas dapur, termasuk penataan ruang kerja dan penyempurnaan sistem Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Awang menjelaskan, dapur yang disuspensi sebenarnya telah memiliki IPAL, namun belum dioperasikan sesuai prosedur. Pengelola mendapat pendampingan dari penyedia peralatan dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) untuk memastikan instalasi berfungsi baik.
Setelah perbaikan rampung, setiap SPPG wajib melewati verifikasi bertingkat mulai dari koordinator kecamatan, koordinator wilayah, koordinator regional, hingga memperoleh persetujuan BGN. Meski masih ada dapur yang belum aktif, Awang memastikan layanan MBG menjangkau sebagian besar sasaran. Dari total 106.518 penerima manfaat di sektor pendidikan, sebanyak 97.997 orang atau sekitar 92 persen telah menerima layanan.
Selain mendukung gizi siswa, aktifnya seluruh SPPG diharapkan meningkatkan permintaan hasil pertanian lokal. Selama libur sekolah, penyerapan komoditas seperti telur, sayuran, dan jagung manis menurun sehingga memengaruhi harga di tingkat petani. “Kami berharap seluruh SPPG segera aktif sehingga manfaatnya tidak hanya dirasakan peserta didik, tetapi juga petani yang memasok bahan pangan,” pungkas Awang.






















Tinggalkan Balasan