Media Kampung, Makassar — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Makassar mencatat sebanyak 50.342 warga di enam kecamatan berpotensi terdampak kekeringan pada musim kemarau tahun ini. Mereka berasal dari 14.564 kepala keluarga (KK) yang tersebar di 27 kelurahan.

Kepala BPBD Makassar, Fadli Tahar, mengatakan potensi tersebut diperoleh dari asesmen cepat terhadap wilayah rawan kekeringan. “Berdasarkan hasil asesmen BPBD Kota Makassar, terdapat sekitar lima puluh ribuan jiwa yang berpotensi terdampak bencana kekeringan,” ujarnya di Makassar, Sabtu 11 Juli 2026.

Dampak kekeringan mulai dirasakan terutama oleh masyarakat yang mengandalkan air tanah sebagai satu-satunya sumber air bersih. Hasil kajian BPBD mencatat 173 titik terdampak di enam kecamatan. Kecamatan Biringkanaya menjadi wilayah dengan titik terbanyak, yakni 58 titik di empat kelurahan. Disusul Kecamatan Tallo dengan 36 titik, Manggala 29 titik, Tamalanrea 27 titik, Ujung Tanah 17 titik, dan Panakkukang enam titik.

Secara keseluruhan, kekeringan berdampak pada 12.717 rumah. Sebagai langkah penanganan, BPBD telah menyiapkan empat unit mobil bak terbuka, 57 tandon air, empat pompa mesin air, serta mengerahkan 180 personel untuk membantu distribusi air bersih.

Bantuan diprioritaskan bagi warga yang bergantung pada air tanah karena kelompok tersebut mengalami penurunan ketersediaan air paling signifikan. Sementara itu, wilayah yang masih mendapat pasokan dari PDAM dinilai relatif aman dan belum menjadi prioritas utama.

Meski demikian, Fadli mengingatkan cadangan air PDAM diperkirakan terus menurun jika musim kemarau berkepanjangan. “Apabila kondisi cuaca kering seperti saat ini terus berlanjut, maka cadangan air PDAM diperkirakan hanya mampu bertahan sekitar 30 hari ke depan,” katanya. BPBD terus memantau perkembangan cuaca dan kondisi sumber air baku untuk mengantisipasi meluasnya dampak kekeringan.