Media Kampung – Kepala Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Bimbad, Agus Susanto, mengimbau jemaah haji dan umrah asal Indonesia untuk menjaga ketertiban saat berziarah ke Makam Jannatul Baqi di Madinah. Imbauan ini disampaikan mengingat Makam Baqi merupakan salah satu pemakaman tertua yang menjadi tempat peristirahatan para sahabat utama Rasulullah SAW dan anggota keluarganya.
Agus menjelaskan, terdapat empat adab utama yang harus diperhatikan jemaah agar tidak melanggar ketentuan otoritas keamanan Arab Saudi. Pertama, meluruskan niat. “Meniatkan betul-betul ziarah bukan untuk kesyirikan. Kita mengambil ibrah atau kebaikan bahwasanya mengingat mati adalah sesuatu yang disunnahkan atau dianjurkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam,” ujarnya, Sabtu (27/6).
Kedua, menjaga sikap dan suara. Jemaah dilarang berteriak, mengangkat suara, berdesak-desakan, serta mengambil foto atau video. “Jangan sampai kita sibuk untuk memfoto ataupun memvideo karena termasuk yang dilarang para pemegang keamanan atau kedisiplinan yang ada di Baqi,” jelas Agus. Larangan berfoto grup di dalam area makam juga ditekankan karena dapat menarik perhatian petugas keamanan (askar) dan membahayakan jemaah.
Ketiga, tidak berhenti lama dan membentangkan tulisan. Agus mengimbau jemaah tidak perlu berhenti dan berdoa lama seperti kebiasaan di Indonesia. “Karena termasuk yang tidak diperbolehkan oleh askar-askar yang ada di Kota Suci Madinah Al-Munawwarah ini,” ungkapnya. Keempat, tertib masuk dan keluar area. Jemaah diminta masuk dengan khusyuk, berjalan perlahan sambil membaca shalawat dan doa, kemudian keluar dengan tertib.
Makam Baqi memiliki keistimewaan karena berdekatan dengan Masjid Nabawi dan menjadi tempat peristirahatan para sahabat utama seperti Sayyidina Utsman dan Sayyidina Ali, serta istri Rasulullah SAW, Sayyidah Hafshah. Sayyidina Hasan bin Ali dan Husein bin Ali juga dimakamkan di sini bersama ibunda mereka, Fatimah Az-Zahra.
Selain adab ziarah, Agus juga menjelaskan perbedaan sistem pemakaman di Arab Saudi dengan Indonesia. Di Saudi, makam tidak menggunakan lahat, melainkan lubang yang dapat menampung 10 hingga 15 jenazah. Setiap jenazah ditutup jerami sebelum jenazah berikutnya diletakkan di atasnya. Setelah lubang penuh, ditutup permanen dan hanya diberi batu tanpa nisan atau tulisan. Keluarga jemaah yang dimakamkan di Baqi akan diberikan secarik kertas berisi alamat makam, termasuk lorong dan nomor, agar mudah ditemukan saat ziarah berikutnya.
Agus berharap jemaah Indonesia dapat menjaga ketertiban dan nama baik bangsa dengan mengikuti seluruh aturan yang berlaku di Tanah Suci.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan